Rabu, 19 September 2018

Biar Nggak Nangis

Kalau anak kecil waktu nangis dikasih permen atau balon biar dia diam, kalau anak seumuran aku dikasih apa ya, haha.
Kayaknya tergantung karakter anaknya. Kalau aku, kemarin aku asal masuk ke toko buku terbesar di sini,  yang otomatis terbesar juga se nusantara. And than, aku beli buku. Aku anggep buku ini balon atau permen gitu yang bisa nyogok kesedihanku untuk pergi jauh jauh.

Bukunya apa? Ini dua pengarang yang aku tunggu-tunggu. Udah lama sebenernya pengen, tapi beliau-beliau ini kata-katanya udah tingkatan tinggi, jadi aku harus mengasah kemampuan dulu. Atau malah aku harus menunggu setidaknya naik level dikit lah. Eh kenyataannya saat aku baca, aku tetep agak susah memahaminya. Tapi nggak papa sih,  kalau nggak dicoba, sampai kapan aku menunggu. Toh kalau dibaca berkali kali dan pelan, aku akhirnya paham, ciee.

Buku ini nggak kayak novel yang sehari dua hari habis. Per hari atau bahkan per pekan mungkin hanya satu dua tiga bab. Tapi itu udah kena pesannya. Keren kan?

Buku yang menemani keseharianku sekarang ini adalah buku dari Rumi dan Cak Nun yeyyy. Ditengah aku lagi ikut proyek survei dan lagi belajar tkd, kalau aku nggak bisa bobok, aku baca buku itu.

Dua buku itu menemani kesepianku setelah semua buku dan novelku diborong, dibawa pulang ibukku. Sedih-sedih seneng. Udah nggak banyak barang, biar pindahan enak, eh malah beli lagi. Tapi, kalau sepi-sepi amat aku juga bakal bosen, haha.

Tadi kan udah pengarangnya, sekarang judulnya. Kasih tau nggak ya, haha. Aku belom selesai baca, jadi ngasih taunya ntar sekalian bikin resensi ya. Ok, sepakat aja lah.

Sekian postingan kali ini.
Maaf terlambat, harusnya akhir pekan.
Selamat mengarungi kehidupan masing-masing. Teruskan hobi kalian dan selalu perjuangkan kehidupan kalian, kehidupan sekarang maupun nantinya, kehidupan fisik maupun batinnya.

Sekarang menjelang hari asyuro, jadi semoga yang punya sakit segera disembuhkan, seperti Nabi Ayub AS yang telah disembuhkan pada hari itu. Semoga yang sedang berada dalam kegelapan, kesengsaraan, segera dikeluarkan seperti Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan paus. Seperti Nabi Nuh AS yang menemukan tambatan sebuah pulau, semoga kamu juga. Dan masih banyak semoga-semoga lainnya. Ininya satu, dirimu yang lebih baik.

Selamat tahun baru 1440H

Referensi: Ustazah Syarifah Halimah Alaydrus

Minggu, 09 September 2018

Tahun Baru, Adakah sesuatu yang Baru

Langsung aja lah ya. Tadi aku agak sibuk, karena lagi main ke rumah saudara. Disini ada anak kecil. Jadi, aku memutuskan untuk menjauhi hp.
Saat aku udah bisa buka hp, wow ternyata banyak yang posting di pekan ini. Aku jadi ingin ikutan. Namun sejujurnya aku nggak tau mau posting apa, hehe.
Aku malah memikirkan sesuatu. Aku memikirkan apakah aku membuat akun in******* atau tidak. Btw, aku lagi butuh. Selain itu, janjiku juga sudah kupenuhi.
Butuhnya apa?
Janjinya apa? Lain kali aja ya aku jelasin.
Intinya akhirnya aku memutuskan untuk membuatnya..  Dan aku harus buat janji lagi nih. Aku akan berusaha tidak meninggalkan kawan lama, aku akan mempertahankan cinta, membuktikannya. Cieh.. Gitu dah intinya. Aku akan setia. Aku tak akan berpaling. Aku akan menjadi diriku sendiri, masih seperti yang dulu.

Doakan aku ya,
Salam di penghujung tahun..
Semoga yang baru itu juga membawa kebaikan..

Wallahua'lam

Minggu, 02 September 2018

Postingan keseratus

Setiap pertemuan ada perpisahan
Lantas, jika ada cinta mengapa hal itu kamu risaukan?

Untukmu yang pernah menanam benih cinta
Yang pernah mengajariku berbagai rasa
Aku ingin mengungkapkan yang sedang ku rasa
Aku turut berbahagia atas peristiwa indah yang telah tercipta...

Beberapa hari yang lalu kamu menunaikan keputusan besarmu
Karena cinta, tentunya aku berada di barisan pendukungmu
Meskti keputusan itu dapat menambah jarak antara kamu dan aku
Meski keputusan itu justru menambah tanggung jawabmu
Meski keputusan itu bisa membesarkan rasa sungkanku untuk menganggu kehidupanmu
Namun, aku tetap setuju dengan keputusanmu
Entahlah meski keputusan itu begitu cepat menurutku
Ku ucapkan selamat atas kebahagian itu
Selamat memasuki dunia baru itu

Kamu tahu kawanku, terkadang aku jadi iri padamu
Iri karena katanya seorang perempuan yang berada pada duniamu itu, setiap gerak geriknya memiliki balasan yang jauh lebih besar dibanding dengan apabila dilakukan di duniaku..

Ah lupakan rasaku yang itu
Bukankah ketika kamu bisa lebih banyak beribadah di dunia barumu, kamu juga akan memanggilku
Ya, memanggil di setiap doamu
Bukankah begitu?

Sekali lagi selamat kawanku
Kata ustazahku, seorang sepertimu, yang bisa berbakti dengan baik akan mendapatkan hadiah besar
Kamu akan dapat memilih masuk Surga dari pintu manapun

Sekali lagi selamat kawanku
Meski tak langsung bertemu
Tetapi keharuan itu sampai pada diriku
Aku tak bisa membendung air mataku
Mungkin karena peristiwa sakral itu
Ataupun mungkin karena kamu sudah berhasil menumbuhkan cinta padaku

Aku yang dulunya takut kehilanganmu
Aku yang tidak mau berpisah darimu
Aku yang berusaha mengihklaskanmu dengan berbekal sebongkah cinta untukmu...

Selamat kawanku
Terima kasih telah menutup dengan cantik, rangkaian cerita di bulan Agustus ini
Terima kasih juga telah memberikanku inspirasi untuk postingan yang keseratus ini
Dan tentunya, maafkan kealayanku ini, haha..


Foto jalan-jalan denganmu, sebelum ada yang menggandengmu, haha.. 

Jakarta, di bawah rintikan hujan di bulan September

Sabtu, 01 September 2018

Ekspektasi Harus Diperjuangkan

Bismillahirrohmanirrohim..

Seseorang pada beberapa hari yang lalu mengingatkanku bahwa santri kui kalah bondo tapi menang dongo, yang artinya santri itu kalah materi tapi menang doa. Kemudian aku berpikir, memangnya aku benar-benar santri? Oleh karena itu, hari ini aku berpura-pura ataupun berusaha menjadi santri, santri kilat haha. Hari ini, aku pergi ke Jamsaren, Kediri, yeeyyy.

Judulnya, ekspektasi harus diperjuangkan. Aku yang biasanya ngutak-ngutik (baca:mendalami) rumus ekspektasi jadi merasa terpanggil ketika Abah dawuh (baca:berkata) kata-kata itu. Pada pembahasan bagian tengah, Abah dawuh bahwa "ekspektasi harus dibeli dengan kerja berat, harapan dicapai dengan tiket kerja keras, jangan hidup di atas fatamorgana, yang dininabobokan dengan hawa nafsu". Penjelasan tersebut pas banget buat aku yang lagi liburan. Hembb..

Penjelasan Kitab Bidayatul Hidayah ini dimulai dengan kata-kata وعلم. Kata ini merupakan isim mufrot serta mudzakar, yang sudah mencakup semua subjek, seperti kata assalamu'alaikum. (paham ga? Semoga paham ya, haha).

Lanjut ya, inti dari pembahasan dengan poin-poin sebagai berikut. Pertama, urip niku panggonane nandur, mbesuk ndik akhirat panggonane panen. Saiki nandur okeh, panene yo okeh. Saiki nandure bagus, ngunduhe bagus. Ngopenine kudu sabar,sabar ngenteni, sabar ngempet nafsu. (semoga paham, kalau nggak gunakan kamus bahasa jawa terdekat hehe).

Kedua, Allah tidak butuh apa-apa, tapi yang butuh itu kita. Kewajiban itu yg butuh kita.

Ketiga, Allah Maha Pengampun, tapi kita jangan seenaknya sendiri. Mentang-mentang diampuni, kita tidak boleh seenaknya menuruti hawa nafsu. Wong pinter wong sing iso ngalahne nafsune. Duduk sing jentrek-jentrek titel'e.

Kemudian tentang ekspektasi tadi. Pumpung jik nom, diiseni sak akeh-akehe, dingge nglatih tanggung jawab. Kudu iso disiplin menjaga etos kerja, menjaga waktu. Itu baru di dunia. Di akhirat lebih berat. Di akhirat harta benda, keluarga nggak berguna, kecuali qalbun salim.

Kamu berpikir Nabi Muhammad tidak bisa membaca tetapi bisa sukses? Memang derajad kita sama, jauh lah ya.. Beliau terpilih. Allah memilih beliau. Begitulah, seperti contoh ini, bahwa nggak semua Nabi jadi Rasul. Wali jutaan, tetapi nggak semua jadi Nabi. Ulama itu banyak, tp tidak semua menjadi wali. Artinya, ada orang" yg dipilih oleh Allah. Diantara" Rasul tsb pun masih ada Ulul Azmi, dst.

Kalau ada orang ingin kaya tetapi tidak bekerja, ingin pintar tapi tidak belajar, anggap saja dia.... Hehe. Intinya hidup itu harus usaha dan diimbangi dengan ibadah yang rajin.

Beralih ke pembahasan basor (penglihatan). Apa ya tadi bahasa arabnya mata dhohir sama batin. Intinya, orang yang ahli makrifat itu adalah orang yang bisa memperbaiki mata hati. Janganlah kita terlalu sibuk memperbaiki mata dhahir, menghiasi mata hati saja.

And than, tentang Surga dan Neraka. Allah menyiapkan surga untuk memberi balasan kepada orang-orang yg manut ditoto. Jangan dianggap Surga itu hasil jerih payah kita, tetapi karena Allah sayang sama kita. Allah sayang, karena melihat orang-orang yg lemas demi menurutinya, bangun malam menghadang nafsunya, ikhlas berkorban, dst.

Terakhir, poin yang saya dapatkan adalah Pertolongan Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Beribadah itu berbuat baik pada diri sendiri.

Wallahua'lam..
Maafkan saya jika kurang lengkap atau ada salah penulisan. Jujur, saya tidak seratus persen fokus. Kayaknya saya salah strategi tempat duduk, hehe.
Ada rangkaian kata lain yang lebih lengkap dan terpercaya. Silakan ada buka fanspage ini.


Terima kasih..
Semoga bermanfaat..
27 Agustus 2018

Sabtu, 25 Agustus 2018

Pertemuan yang Tak Disangka

Aku bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang untuk jalan-jalan.. Dalam keadaan keuangan yang menipis, aku lebih suka berdiam diri di toko buku, atau malah membaca lewat perpustakaan online. Namun, kali ini dipaksa dan tak disangka..
Terima kasih Jogja atas pertemuan singkat kita.

Setelah selesai rangkaian seminar, sidang, sampai pada pengumpulan berkas, aku merasa penat sekali. Aku penat karena kehabisan tenaga, keceriaan maupun uang, haha. Satu yang kupikirkan untuk menyembuhkannya, yakni pulang.

Aku ingin pulang tapi uang aja nggak ada. Malahan, aku masih punya utang pada seseorang. Dalam kondisiku yang seperti itu, aku melihat di grup kalau ada yang menawarkan tiket. Tapi, dia menawarkan tiket dari Jakarta ke Jogyakarta.

Sekali lagi, aku bukan tipe orang yang suka jalan-jalan, apalagi dalam kondisi seperti ini. Aku ingat setelah selesai sidang, aku memilih untuk pergi ke gramedia dengan bermodalkan uang tujuh ribu rupiah untuk transportasi. Di sana pun, aku mengahbiskan waktu maksimal, sampai-sampai hampir diusir karena sudah mau tutup. Lalu pulangnya, aku makan semangkuk bakso berdua.

Sederhana tapi so sweet kan?.

Namun, balik lagi ke suasana setelah revisi, suasana kali ini berbeda. Aku harus pulang. Bahkan, aku harus segera pulang. Semakin lama aku berpikir semakin habis waktuku.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk tanya orang tua. Aku bertanya masalah jalur yang berbeda dan juga tunjangan uang, hehe.

Selain itu, aku pun tak berani sendiri menunggu enam jam ataupun dua belas jam untuk menunggu kereta Jogja Kediri. Atau, aku juga tidak cukup berani untuk pergi ke terminal. Akhirnya, aku juga berusaha mencari bidadari yang menemaniku.

Alhasil, aku menemukan bidadari itu. Ibuku juga mengijinkanku. Dan seseorang yang saat itu menemaniku berpusing ria untuk menentukan keputusan, juga memberikanku uang yang sebenarnya adalah milikku.

Aku begitu bergembira, setelah bermalam-malam galau. Akhirnya, aku akan pulang dan malah dapat bonus singgah di Jogja.

Aku sebenarnya grogi bertemu dengan Jogja. Seseorang yang seneng banget sama gudek ini malu-malu menyapa Jogja. Dia sudah lama tidak kesini, padahal dulunya dia ingin sekali disini.

Dulu, anak ini memilih study tour ke kota ini karena ingin memasuki sebuah tempat yang dia idam-idamkan. Eh, tetapi saat hari h, tempat itu tidak bisa dimasuki. Dia lalu patah hati sampai detik ini. Dia, tipe orang yang tidak suka pergi tanpa alasan, belum mempunyai alasan lagi untuk masuk ke tempat itu. Sampai sekarang pun, dia yang tak beralasan, hanya lewat di depannya.

Seperti itu prinsip dia, mirip dengan keadaan seorang laki-laki yang menyukai seorang perempuan dan belum siap memilikinya. Dia akan diam. Dia akan lewat begitu saja tanpa sapaan yang berarti. Kalau menyapa saja ragu, apalagi memasukinya.

Semoga suatu saat laki-laki itu segera siap dan memberikan alasannya. Dan semoga dia juga punya alasan untuk masuk ke tempat itu. Mereka sama-sama punya alasan yang baik. Pastilah suatu saat nanti doa itu dikabulkan.

Ah kok malah ke situ. Balik ke cerita perjalanan singgah beberapa jam itu.

Perjalanan Jakarta Jogja begitu melelahkan. Jalurnya lebih panjang dari pada biasanya. Aku sampai bosen dan menuliskan sebuah karangan yang entah jelas atau nggak. Judulnya, Masihkah memegang keyakinanmu erat-erat. Namun, dari itu semua, aku suka dengan pemandangan yang disuguhkan. Keren banget.

Sampai di stasiun, aku kaget dengan bidadari yang menemaniku. Dia membawa kereta kencananya sendiri dan dia memakai baju dengan warna yang sama denganku. Bagiku, itu kejutan yang sangat menyenangkan.

Aku lanjut berkeliling dengan dia, membeli oleh-oleh, berfoto dan segera kembali ke istananya. Aku merasa sudah berada di Kediri. Dia juga menambahkan, "memang suasana Jogja mirip dengan Kediri, dan kalau Solo mirip Blitar".

Singkat rasanya waktu itu, karena kedatangan kereta yang molor dari jadwalnya otomatis waktuku berkeliling juga berkurang. Namun, itu semua sudah cukup. Sekali lagi cukup bagiku, seseorang yang bukan tipenya jalan-jalan lama, haha. Bahkan berasa sangat cukup karena cerita sepanjang perjalanan dengan bidadari yang cerdas.

Memang ya, emak-emak sukanya ngobrol. Kami bercerita mulai tentang perkuliahanku, perkuliahannya, teman-teman alumni sampai pada alumni yang di Mesir. Selain itu, tentang Jogja, tentang keadaan anak-anak, tentang semuanya. Sepertinya kurang tentang novel ya, haha.

Setelah selesai berkeliling, tepat saat adzan magrib berkumandang kami sampai di istanannya. Seneng, karena aku dulu juga pernah tinggal di istana seperti itu. Adek-adek "sarungan" mengingatkanku pada adekku.

Disana, aku istirahat sejenak. Aku makan, sholat, dan masih saling bercerita, bernostalgia. Begitulah..  Sampai pada aku harus kembali ke stasiun.

Aku masuk stasiun setengah jam sebelum keberangkatan. Aku menunggu kereta orang terlebih dahulu, sebelum menunggu keretaku.

Aku tak menyangka dapat menunggu seseorang yang kemarin mengajakku janjian di Semarang, tapi gagal. Kami tak janjian lagi, tapi kereta yang mengantarkan kami bertemu. Kereta dia singgah di stasiun tempat aku menunggu keretaku. Dan dia pun menyempatkan turun untuk menemuiku.

Aku benar-benar tak menyangkanya. Ketika kita mengikhlaskan sesuatu, justru terkadang Allah memberikannya. Itulah ujian dan pembuktian. Bukan sekali ini aku merasakan hal seperti itu, pertemuan tiba-tiba, hehe. Jadi hikmahnya lagi, buat yang rindu sama aku, ikhlasin aja ya, siapa tau nanti ditakdirkan bertemu, haha.

Pertemuan itu singkat tapi bermakna sekali. Gimana ya, kalau dipikir-pikir, seseorang yang asalnya Boyolali dengan wilayah kerja Kalimantan akan berpeluang sangat rendah dengan mahasiswi Jakarta yang berasal dari Kediri. Iya kan?

Namun, dengan Kun fa yakun.. Pertemuan itu mudah sekali terjadi. Tinggal mahasiswanya suruh nunggu di Jogja, haha.
Aku hanya harus menunggu di Jogja, untuk pulang ke Kediri. Kemudian, dia yang mau pulang ke Solo (dari Cirebon) akan singgah pula di Jogja. Waktu, jalur, sedemikian rupa, tanpa disangka telah dirancang oleh-Nya.  Keren kan ya..

Pertemuan singkat yang tak terduga di Jogja membuat hatiku bahagia. Mungkin ini sebagi hadiah karena aku telah memperjuangkan pertemuan-pertemuan bersama beliau-beliau tercinta. Perjuangan yang lumayan berat untuk bertemu orang-orang yang keren, perjuangan menantinya pun juga lumayan. Lalu, hadiahnya juga lumayan.

Sampai disini aku juga mau berterima kasih kepada semua pihak, terutama yang menemani sampai akhir perjuangan revisi. Untuk saudaraku dita, mipus, rista, fanny, adek adek kamar satu (aisyah, rizka), Kak Tati, emut, semuanya deh, termasuk ketua kelas, kiki, siti, puput, yang tak bisa aku sebut satu persatu. Dan yang jelas buat mbakku tersayang, yang tiba-tiba dipertemukan di Lempuyangan, hehe. Aku ingat pesan dan amunisimu sebelum aku sidang..

Terharu, tapi ngapain juga mbak kamu ke Jakarta hanya demi diriku, hahaha.

Terima kasihku kuucapkan juga buat bidadari Jogja, Risa, cewek manis asal Blitar.

Makasih udah dibilang cantik, haha.. Ini foto aku mau balik ke stasiun... 

Kalau ini foto statusnya mbak, hehe. Kelihatan sendiri dan nyasar, kasihan, tapi aku santai aja kok. Makasih mbakku. 

Sekian.. Wallahua'lam..

Jumat, 24 Agustus 2018

Masihkah Memegang Keyakinanmu Erat-erat

Kalau kamu masih memegang keyakinan itu erat-erat, kamu akan sampai pada tujuanmu. 

Hari ini aku melakukan perjalanan kereta di pagi sampai siang hari. Hal yang jarang aku lakukan, karena jadwal kereta yang sering aku pilih memang kereta malam. Dan sekarang, aku memilih (dipilihkan) kereta yang berbeda.

Pulau jawa yang berkalung besi. Ya, aku menyadarinya. Begitu panjangnya besi yang sudah mengitari pulau ini. Dari jalur atas, bawah, besi itu ada di mana mana. Besi itu panjang, melewati sela-sela pegunungan, berada di atas jurang, lembah, dan seterusnya. Begitu hebatnya besi ini, dan begitu jelas terlihat pada perjalanan kali ini.

Aku sempat berpikir, adakah rasa takut dalam perjalanan ini. Kemudian aku menjawabnya, apakah aku perlu menghiraukan rasa takut itu, toh nantinya jika takdir sesuai dengan keyakinanaku, aku akan sampai pada tujuanku. Mengapa aku tidak mengabaikan rasa takut itu, dan fokus pada tujuanku?

Rabu, 08 Agustus 2018

Sendiri, kata hati

Ingin ku mencari tempat untuk berdiskusi dengan diri sendiri, disinikah tempatnya?
Kalau ingin sendiri, kenapa kamu malas untuk menulis di kertas?
Entahlah..
Aku suka sendiri, berbicara dengan kata hatiku.. Mendengarkan kata hatiku..
Dan tentunya melihat seberapa dekatnya dia dengan sesuatu yang harusnya dekat, dan juga seberapa jauhnya dia dari yang seharusnya jauh.
Sendiri
Masih kah ku mampu menulis disini
Tempat yang sepi ini..
Aku tak tahu siapa yang tinggal disini..
Yang jelas mereka baik hati, karena membiarkanku tetap sendiri dengan tulisan ini..
Maaf jika malah aku yang menganggu... Menulis aksara dengan tak tau malu..
Tapi aku akan berjanji, suatu saat nanti akan banyak yang bisa dinikmati.. Dari tulisan tulisan ini..
Selamat menanti

 
Copyright 2009 Sedikit Berbagi. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator