Sabtu, 30 Desember 2017

Liburan yang produktif itu mungkin akan tergambar dari seberapa banyak output(kebermanfaatan) yang kamu hasilkan. Yah,, seberapa dekat kamu dengan keluarga tentunya dengan hobimu juga. Kali ini, liburanku yang lumayan pendek mau aku panjang-panjangin, hehe. Liburan yang panjang-panjang pendek~~~

Banyak tema yang akan diangkat dan terangkat dalam liburan ini, sebanding dengan banyaknya hikmah yang patut sekali digali. Ini berawal dari perasaan, berawal dari kesabaran.

Hampa, adalah perasaan yang pertama kali aku rasakan di mobil ketika perjalanan menuju rumah. Aku merasakan aura yang berbeda. Entah karena beban semester tua, atau liburan yang tak sesingkat biasanya, atau mungkin kereta yang sampai lebih siang dari biasanya. Entahlah, alasan semua itu akan sampai padamu.

Benar nyatanya, setelah ibu memberiku segelas susu hangat, mulailah percakapan yang lumayan “menyedihkan” terlontar. Ibu bercerita mulai dari berita kepulangan saudara yang dianggap sangat mendadak, kepulangan tetangga sini, sana dan lumayan banyak kesedihan, sakit yang sedang mewabah dan lain-lain. Ditambah lagi dariku, aku menceritakan kegalauanku tentang kakak kelas yang penempatan di pulau nan jauh disana. Pelajaran pertama bagiku, yaitu pelajaran untuk mensyukuri kebersamaan.

Lanjut di siang harinya, ada aja ujian kesabaran yang khusus buat kami. Peliharaan kami yang sedang hamil mati pada siang itu. Lalu sorenya adikku tiba-tiba memberi kabar kalau dia sedang kecelakaan. Suasana semakin sendu, ditambah dengan rintikan hujan. Namun, dengan semua itu hikmahnya adalah adikku jadi agak diam di rumah. Esoknya dia ikut kami “rutinan”. Dan tausiyah dalam rutinan tersebut pas banget buat kami. Beliau bercerita tentang cobaan bagi para Nabi. Beliau mengingatkan tentang angin yang semakin kencang untuk pohon yang semakin tinggi. “Robbi fagfirlii dzunubi ya Allah, bibarkati hadi Muhammad ya Allah” senandung kami berempat dengan diiringi tabuhan kang-kang BBS.

Hari selanjutnya, silaturahmi di Kediri selanjutnya bersama nenek dan paman-pamanku. Ini kali kedua aku ikut acara tahlilan (mendoakan orang yang meninggal) saat liburan edisi ini. Mungkin hal ini sengaja menambah aura kesenduan ataupun menambah kesadaranku akan waktu. Hmbbb..

Setelah acara ini selesai, kami melanjutkannya ke rumah sakit. Aku seneng-seneng sedih dapat kesempatan mengunjungi rumah sakit. Kata banyak orang, di sana tempat paling enak untuk muhasabah diri, tapi kasihan juga ngelihat saudara sendiri jatuh sakit. Welll, kalau pergi sama orang laki-laki itu beda ya. Mereka lebih nggak baperan, hehe. Apalagi kalau pergi bersama paman-pamanku yang nggak kalah usilnya sama bapakku.

Aku masih menemani nenekku berjalan dengan kecepatan yang lumayan rendah, sedangkan bapak dan paman-pamanku sudah memimpin di depan. Mereka terlebih dahulu sampai di depan kamar saudaraku (anggap saja tante dari kakek buyut yang sama). Di depan kamar ada nenek (adik nenekku, ibu dari tanteku yang sakit) sedang duduk di kursi dengan raut kesenduannya. Bapak-bapak ini tadi malah duduk terdiam disamping nenek tadi. Tak menyapa atau apalah. Dan nenek pun tak melihatnya. Baru saat aku dan nenekku sampai di depan nenekku yang sedang termenung tadi, beliau kaget. Tiba-tiba kok banyak bapak-bapak sarungan yang duduk disampingnya, dan ada nenekku di sana. Yah begitulah hidup, jangan terlalu "sepaneng", dawuhipun gus mus. Memang kehumuron  cowok kadang bisa melengkapi kegalauan cewek. Allah sudah menjadikan keduanya berpesangan.

Beliau tau kalau keluarga besar kita sedang berduka, masih kaget dengan peristiwa beberapa hari yang lalu, dan juga keluarga kita sedang banyak yang fisiknya melemah. Beliau kaget dengan kehadiran kita, kita yang masih menyempatkan hadir untuk menjenguk. Ya, namanya saudara. Lagi pula memang sekalian mampir sehabis menghadiri undangan. Ibu-ibu, nenek-nenek yang saling menceritakan kegalauannya, dan juga bapak-bapak yang sukanya usil dan humoris. Btw, tanteku ini habis melahirkan dengan anaknya yang masih perlu perawatan khusus. Beliau masih terpisah dengan anaknya. Beliau masih merasakan sakitnya operasi, karena ini bukan operasi pertamanya. Ibu-ibu, begitulah pengorbananmu.

Berganti hari, malamnya kami rame-rame “rutinan PMJ”. Tempatya agak jauh, tapi aku justru senang, karena bisa jalan-jalan lama, hehe. Seneng banget berada di kerumunan ini, kerumunan yang terus bertambah. Mungkin kalau dibandingkan aksi-aksi di Jakarta banyaknya sama, atau bahkan lebih banyak. Bedanya terletak pada tujuan acara. Apa bedanya? kapan-kapan cobain sendiri ya.

Belanjut ke hari berikutnya, adikku sudah kembali ke pondoknya. Hmbb.. Eh iya dua hari berturut-turut ini, ada lagi kabar duka. Semoga mereka khusnul khotimah, aamiin. Masih sendu.

Pumpung masih di rumah, berjalanlah menyusuri bumi yang telah dibentangkan ini, pumping ada motor, pergilah menuju suatu tempat. Eyyakk.. akhirnya aku memutuskan untuk mengendarai motor keayanganku. Pertama aku menuju menuju tempat terfavoritku, tempat yang kemarin sempet ditangisin, tempat sejuta kenangan, ehembb.

Awalnya nggak mau sendirian kesana, akhirnya dapet pendamping juga,  hehe. Sampai sana akhirnya juga sendiri karena temanku belum datang. Di gerbang ketemu ustaz, digethok pula helmku, ya memang seperti itu cara beliau. Habis itu ke dapur, ketemu ibuk tercinta dan juga mbak senior. Mereka lagi repot di dapur. Aku pun langsung ikut-ikutan, berusaha membantu. Beda banget rasanya ketika langsung bisa masak dengan beliau-beliau. Dulu aku hanya menerima masakan jadi, membantu di dapur saat ramadhan saja, memang karena fokus mencari ilmu. Dan saat kesempatan ewang-ewang dapur tiba-tiba terbuka tadi, rasanya seperti punya utang yang tiba-tiba lunas terbayarkan semua. Tau gitu, aku berangkat lebih pagi, hehe.
Sampai pada saat aku harus pamit, aku sebenarnya ingin berlama-lama, tapi nggak, nanti malah semakin banyak kenangan berdatangan dan makin menghantui, wkwkwk. Cukuplah gerimis dan hujan yang datang, cerita-cerita dari beliau, serta derasnya air "tandon" yang masih sama dengan dulu, yang tiba-tiba penuh dan luber.

Kenangan itu ternyata bisa terpupukkan, sengaja ditumbuhsuburkan. Sebegitulah Allah Yang Maha Agung mengatur kehidupan ini. Aku yang di sana masih saja merasakan kesabaran beliau, berharap bisa tertular. Dan beliau di sini menemukan santri yang mirip denganku, salah satu yang menjadi sebab beliau masih mengingatku,  hehe.

Ditakdirkan bertemu dengan seseorang seperti bidadari. Saking cantik paras dan hatinya,  bertahun-tahun tak berani diri ini menatap langsung wajah beliau dari dekat. Pandangan mataku mungkin sadar dengan sendirinya. Bibirku pun tak mau kalah, dia selalu mematangkan apa yang akan diucapnya, sehingga banyak jeda keheningan. Malu-malu berasa aneh gimana gitu. Dan akhirnya, keheningan itu akan dipecahkan oleh senyum beliau.

Masihkah ada sosok seperti ini di zaman anak cucumu?

Dapatkah kamu temukan sosok seperti ini di belahan bumi bagian sana?

Wallahua'lam bisshowab.

Minggu, 17 Desember 2017

Rabuil Awwal 1439H

Sambungan Hati Tak Akan Terlewat, Cinta Tak Mengenal Ruang dan Waktu

Mereka menunggu seseorang yang mereka agungkan. Kabarnya, beliau akan segera tiba, tetapi dari Kamis, Jumat, Sabtu, belum ada yang datang. Setiap rumah sudah dipersiapkan, siapa tahu rumah ini akan menjadi tempat tinggal beliau. Sambutan untuk beliau pun sudah dirancang. Senin pun tiba, dan beliau benar-benar sampai di Kota ini, Yatsrib (Madinah).

Bulan purnama sempurna telah datang, dari Thaniyyatil Wada’
Patutlah kita senantiasa bersyukur kepada Allah
Utusan Allah telah berada di tengah kita membawa amanat
Telah terbit bulan purnama menerangi negeri kami
Telah datang kepada kami Rasulullah pembawa risalah
Keindahanmu tiada tertandingi
Wahai wajah yang senantiasa berseri
Engkau laksana matahari
Engkau bak bulan purnama sempurna
Engkaulah cahya mengungguli semua cahaya
Engkau laksana logam mulia
Engkaulah pelita hati seluruh umat..

Sambutan masyarakat Madinah dengan diiringi tabuhan khas dengan alat yang disebut rebana. Saat itu, mata mereka tak berkedip, takjub saat melihat baginda. Hati mereka berdebar-debar, berharap kekasihnya memilih rumahnya untuk dijadikan tempat tinggal. Nabi yang indah tutur katanya, memilih untuk menyerahkan pilihannya pada untanya. Unta Nabi yang dituntun oleh Allah akhirnya berhenti di sebuah rumah.
((Unta mana yang begitu mulia, sampai-sampai Allah yang menunjukkan jalannya. Begitu pula dengan  jalan kehidupanmu, apabila hatimu terpenuhi oleh Nabi, hatimu akan dipandu.))
Unta itu memilih rumah Abu Ayyub Al-Anshori. Rumah itu tidak semegah rumah lainnya. Namun, karena disitu ada sesuatu yang mengaitkan, sebut saja cinta. Iya, memang itu cinta. Cinta yang tumbuh sebelum Nabi dilahirkan, cinta ratusan tahun yang lalu, cinta yang tertanam dari nenek moyang  Abu Ayyub. Cinta itu mempunyai surat sebagai buktinya.

“Amma ba’du. Aku adalah Raja Tubba’. Sesungguhnya aku beriman kepadamu. Aku berada dalam agama dan sunnahmu. Aku beriman pada Tuhanmu, Tuhan segala sesuatu. Aku juga beriman kepada syariat agama yang bersumber dari Tuhanmu. Jika aku dapat bertemu denganmu, itu adalah suatu kenikmatan bagiku. Jika tidak, berilah aku syafaatmu dan di hari kiamat jangan lupakan diriku,karena aku adalah umatmu yang terdahulu dan aku telah berbai’at sebelum kedatanganmu. Aku memeluk agamamu dan agama Ibrahim AS.”

Begitulah inti dari surat yang dititipkan kepada Abu Ayyub. Surat itu ditulis oleh Raja Tubba’. Siapakah Raja Tubba’ itu?

Singkat cerita beliau adalah Raja Yaman yang sangat disegani. Namun, ketika beliau sedang berada di Mekkah, beliau tidak begitu dimuliakan, karena penduduk Mekkah memiliki Ka’bah yang mereka muliakan melibihi siapapun.
Ketika itu Raja Tubba’ marah, dan memiliki niat jelek untuk Ka’bah. Namun, Allah menegurnya dengan memberinya dia sakit.

  ((Sakit, adalah cara Allah menyayangi hambaNya, lantas bagaimana jika hidupmu berjalan tanpa ada peringatan buatmu?.))

Semua tabib tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Kemudian salah aatu ulama bertanya apakah dia memiliki niat jahat. Beliau pun mengutarakan niat jahatnya pada Ka’bah. Setelah itu, beliau bertaubat dan Allah menyembuhkan penyakitya.

Saat perjalanan menuju Yaman, ketika sampai di Madinah, ulama-ulama dalam rombongannya memilih untuk menetap di Madinah. Ulama-ulama jaman tersebut tahu bahwa kota ini akan menjadi kota Hijrah Nabi akhir zaman. Nabi Tubba’ pun mengijinkannya, beliau percaya/beriman pada Nabi akhir zaman tersebut, bahkan beliau merawat sanak saudara para ulama kaumnya yang tinggal di Yaman. Beliau juga menitipkan surat cintanya pada Nabi, agar suatu saat bisa sampai pada Nabi.

Begitulah cerita singkatnya, tentang cinta Raja Tubba’ pada Nabi Muhammad SAW. Cinta beliau yang tak mengenal ruang dan waktu. Aku harap begitu pula dengan cinta 1400 setelahnya. Begitu kan cintamu pada Nabi?

Wallahua'lam

Referensi:
Kajian Ustadzah Halimah Alaydrus (Jakarta, Rabiul Awwal 1439H)
demensholawatan.blogspot.co.id
imandanamalshaleh.blogspot.co.id

Ceritanya, cerita ini ingin dihadiahkan ke sebuah tempat :)

Jumat, 24 November 2017

Pe Ka El

Waktu itu aku ketahuan nulis cerita tentang pkl, tepatnya cerita tentang perjalanan memperoleh data. Terus aku ditagih cerita tentang perjalanan menganalisis data. Hmbb..  Sebenernya sebagian sudah aku ceritakan di postingan sebelum ini. Namun,  aku rasa memang belum cukup.  Belum ada ending sama cerita yang benar-benar utuh. Dan saat itu entah kenapa, belum ada waktu pas untuk nulis semua itu. Dan mungkin sekarang saatnya.

Bismillahirrohmanirrohim.. Kan ku ceritakan pada kalian semua. Apasih pkl itu, ada apa aja, berapa lama, buat apa,  di mana, ngapain, sama siapa, naik apa, sesibuk apa dan lain-lain. Karena katanya ketua pkl kayak gini.

Ke bangka belitung lihat benalu
Disamping benalu ada melati
Meski pkl telah berlalu
Tetapi kenangan tetap di hati

Pkl untuk dikenang tapi tidak untuk diulang..

Jadi sedikit aku buka kenangan itu. Berawal dari pemilihan pengurus pkl,  baik dari dosen maupun mahasiswa. Selain pengurus, tema besar dan sub tema pun ditentukan. Kali ini berbeda dengan angkatan sebelumnya. Tema besar pkl ini adalah Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan menggunakan metode SAE,  dengan metode baru yakni CAPI. Dengan sub tema banyak,  salah satunya Kemiskinan Multidimensi. Maaf ya nggak aku sebutin semua,  wwkwkwk.  Dari tema besar dan sub tema itu dibentuk tim, tim yang terdiri dari bph,  analisis, kuesioner, metodologi,  pengolahan, dan umum. Selanjutnya dari masing-masing tim itu mengerjakan tugasnya masing-masing.

Kita satu angkatan melakukan pekerjaan itu dengan timeline yang lumayan,  hmbb.. Maklum pengalaman pertama. Entah susahnya karena belajar mengkoordinir anggota yang lumayan banyak, atau belajar dengan dunia baru. Yang jelas ini jadi tempat belajar banyak buat kita. Termasuk belajar pulang malam,  belajar begadang belajar berani diskusi dengan dosen, belajar nulis dan masih banyak lagi.

Belajar dengan oleh orang banyak. Karena kami bekerja bersama dari awal,  sekitar empat ratusan mahasiswa. Ada saatnya kita dipimpin,  ada saatnya memimpin.

Terus kelebihan lain selain banyaknya tema dalam satu penelitian besar ini ada SAE sma CAPI.
Tentang SAE, itu seperti pemaduan kelebihan metode survei dan sensus. Pokok keren itu tujuannya.
Kalau CAPI itu intinya kita wawancara pakai aplikasi, pakai tab. Kalau bisanya kan pakai kertas. Jadi perlu programer handal nih disini. Tantangan banget bagi anak anak komputasi.

And then, slama mengerjakan pekerjaan setiap tim, ketika pencacahan atau pengambilan data di lapangan, kita dibentuk suatu tim lagi. Tim ini terlepas dari tim sebelumnya, sebut saja ini pembagian tugas di lapangan. Di sini diperlukan instruktur, koor wilayah, koor tim, suplemen dan lain-lain. Kalau yang sebelumnya ada 8 tim sesuai tema, tim di lapangan lebih banyak, sekitar 80an, pokok se tim ada tiga sampai lima orang anggota.

Ke lapangan, tepatnya ke Negeri Laskar Pelangi. Kita ke sana naik pesawat, ciee.. Disana kita dibagi diseluruh penjuru provinsi. Alhamdulillah aku dapat ibukota provinsi. Yeyy... Sampai sana tugas kita sama rata, mengambil data secara akurat,  eyaak.. Sebelum itu tentunya diperlukan pelatihan,  yang disitu membutuhkan konsep definisi yang jelas serta pengajar yang tentunya dari mahasiswa itu sendiri. Nggak lama lama waktu pelatihan, dan juga pencacahan, kami udah pulang lagi dan bekerja kembali di tim sesuai tema awal.

Kami kembali dengan bahan untuk bekerja selanjutnya. Data diolah oleh tim pengolahan,  metodologi dan disempurnakan oleh tim analisis. Nggak sampai itu aja, dilakukan konsultasi tersruktur dengan dosen. Pembuatan summary, presentasi dan akhirnya selesai juga bahan untuk dipublikasikan.

Dalam publikasi ini dibutuhkan lagi tim pembuat slide,  tim presenter,  dan tentunya petinggi-petinggi tim di setiap tema untuk menjelaskan hasil penelitian.

Dalam memaparkan hasil,  sebagian dari kita yerbang lagi ke Bangka dan Belitung. Selain itu, kita mengadakan Seminar Nasional. Di seminar nasional ini juga dibutuhkan lagi panitia-panitia demi terselenggaranya acara ini. Ya,  seperti mengundang panelis panelis yang keren, ngurusin bahan bahan,  konsumsi,  souvenir. Jadi..  Selama pkl ini banyak kegiatan, beragam tim, beragam tujuan,  tetapi satu intinya.  Kami melakukan aksi nyata untuk membangun bangsa.

Semoga semua yang sudah terjadi bermanfaat banyak. Semoga khilaf ditetima taubatnya. Aamiin..

Btw, tadi habis pleno pkl untuk angkatan bawahku. Jadi semangat buat adek-adek. Kata Pak Dosen, mereka harus lebih baik. Lebih baik dari standar yang telah dibuat angkatan kita.

Wallahua'lam..

Kamis, 23 November 2017

Perjalanan di Ibukota Provinsi

Siang itu, puluhan koper berjejer rapi di depan ruang resepsionis, dua puluh tiga kunci menunggu  pemiliknya disusul dengan puluhan motor yang berjejer rapi di parkiran. Itulah suasana keramainan di penginapan kami. Ditambah dengan semangat yang membara dari enam puluh tujuh anak pada sore itu. Kami berkenalan dengan motor masing-masing,  dengan bantuan hp kami mulai menelusuri wilayah,  entah wilayah pencacahan ataupun hanya sekadar melihat tempat untuk memenuhi kebutuhan.

Kamis, 31 Agustus 2017

Perjuangan di Bulan Kemerdekaan

"Bersama kita mengabdi untuk ibu pertiwi, tak kenal lelah pantang menyerah mari tegap mengayun langkah, curahkan segala daya tuk Indonesia Jaya".
Kami masih disini, masih menunggumu. Kami masih disini menunggu selesainya pembekalan demi tercapainya tujuan besar itu. Disamping itu,  sedikit demi sedikit kami memulai merintis, memulainya dengan sedikit ber-"aksi nyata untuk bangsa". Yaps, bulan ini tepatnya di semester enam ini,  tugas kami selain menimba ilmu adalah menyelesaikan misi Praktek Kerja Lapangan angkatan 56.

PKL ini telah dimulai dirancang hampir satu tahun yang lalu. Perjalanan terjun ke lapangan juga sudah terlaksanakan. Bahkan cerita pencacahan itu sudah mulai hilang dari ingatan,  hehe. Sekarang kami bertugas mengolah, dan menganalisis hasilnya.

Kebetulan saya terlibat dalam perjalanan hampir episode akhir pkl ini.
"nantinya ada lima perwakilan setiap seksi analisis" percakapan di grup.
"vin,  kamu bisa kan?" pesan dari seseorang datang.
Aku yang memang tidak akan pulang saat itu langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang, pikirku yang jelas kegiatan itu tidak menyita sabtu mingguku. Namun sebenarnya aku belum terlalu paham kegiatan apa yang akan aku ikuti,  dan aku kaget setelah benar-benar tahu. Sudahlah,  hatiku mulai bergejolak nggak jelas,  tapi aku segera belajar menjalani takdir terbaikku,  eyyahh.

Berangkat pagi, duduk di bangku depan dengan beberapa orang saja,  melihat layar,  membaca,  istirahat solat,  makan siang dengan bubur,  hari beranjak sore dan pulang  adalah keseharian kami dalam mempersiapkan hari spesial itu. Ada aja kesalahan sederhana yang kita buat sendiri. Ada juga guyonan kecil yang menemani perjalanan kami waktu itu (cowok ganteng yang sedang ditikung temannya sendiri). Namanya manusia,  masih mencoba belajar untuk memperbaiki ketidaksempurnaan dengan berbagi ataupun membagi.

Hari-hari itu memang lumayan padat, tapi aku sempat kabur menuju seminar skripsi kakakku,hehe. Selain kesibukan anak-anak pkl, di kampus ini yang sebagian mahasiswanya menikmati liburan,  masih banyak perjuangan lain termasuk seminar skripsi. Di seminar ini mahasiswa semester 8 dituntut untuk menampilkan hasil terbaik penelitian mereka. Dari mahasiswa tingkat empat ini aku hanya melihat satu,  dan itu luar biasa keren. Keren karena hasil penelitiannya,  keren karena bisa membuka alam sadarku. Dari seminar ini,  dari tulisanmu,  kamu akan memberikan kebermanfaatan untuk sekolahmu serta bangsamu.

Pulang pergi kampus dengan bertemu beberapa orang yang sama,  dengan pekerjaan yang sama memerlukan kesabaran dan ketekunan yang lumayan. Kesabaran dan ketekunan itu yang akan memberikan hasil. Dan hal itu memang benar. Setelah sekian lamanya,  kami menghasilkan dua ratusan lembar yang siap diberikan kepada dosen pembina. Rasanya lega,  bebas,  dan juga khawatir karena semakin mendekati hari spesial itu. Kami hanya punya sekitar tiga hari untuk sejenak istirahat sambil mempersiapkan hari itu. Aku pun mempersiapkannya sampai jauh-jauh ke Ancol wkwkwkwk. Aku memperistirahatkan hatiku dengan "rihlah ke Dufan" bersama keluarga RQ.

Acara rihlah ke Dufan  ini dadakan seperti tahu bulat. Rasanya pun sama seperti tahu bulat, angeet,  hehe. Bermodalkan diskon tiket untuk cewek,  keinginan keluarga yang belum pernah rihlah serta waktu kuliah ustazah yang tiba-tiba longgar, kami anggota keluarga yang nganggur langsung tancap gas memenuhi ajakan ke Dufan. Setelah mendapat ajakan itu kami segera mandi,  mempsrsiapkan bekal dan menunggu kepulangan ustazah.

Kami sampai di dufan siang hari, dan kami pulang sore hari. Singkat,  tapi kami cukup banyak merasakan wahana yang ada. Bahagia itu sederhana, ketika kami bisa melihat keindahan alam,  ketika kita dapat tertawa, menangis bersama. Dan yang paling ngena adalah ketika berpikir bahwa semua yang ada disini  ciptaan manusia yang disusun begitu canggihnya. Lantas,  bagaimana jika Allah yang membuatnya? Kita diputar begitu dahsyatnya,  diombang-ambingkan,  dan adakah sabuk pengaman yang erat menjaga kita? Al Qur'an, jadilah teman kita kelak. Aamiin

Kembali ke hari spesial pkl, sebut saja konsultasi terbahagia, kami melaluinya selama empat hari. Kegiatan itu berlangsung dari pagi sampai malam di kampus. Setelah itu,  kami melanjutkan pr hari itu dan persiapan untuk hari esok di kos salah seorang dari kami. Padet? Lelah? Jangan anggap kegiatan yang lumayan padet ini sangat melelahkan, kegiatan ini juga mengenyangkan serta menyenangkan, hehe, yang jelas katanya kegiatan ini mendekatkan. Semoga benar-benar begitu. Semoga kegiatan ini mendekatkan dengan keberkahan ilmu,  dengan persahabatan. Aamiin

Singkat sekali jika keseharian kita dilakukan dengan sungguh-sungguh,  dengan memadatkan kegiatan. Waktu itu akan berlalu dengan cepat. Hari sudah berganti Sabtu, Minggu dan aku akan memeriahkan hari kemerdekaan bersama adik-adik Rumah Qur'an Cipinang.

Perayaan ini benar-benar memberikanku penyegaran setelah berlama-lama dengan acara kampus. Aku diajak untuk semakin dekat dengan perjuangan Indonesia, dengan kehidupan anak-anak dan tentunya dengan Islam. Dari lomba hafalan,  adzan sampai makan kerupuk ada di acara ini. Perjuangan yang luar biasa, perjuangan dunia akhirat,  eaakk. Semoga semangat kemerdekaannya membara dalam membersamai perjuangan untuk dunia dan akhirat.  Aamiin.

Besoknya aku harus ke kampus lagi untuk acara  pembagian hasil belajar,  sebutannya ambil ip. Hmbb,  hasilnya aku punya sudut pandang lain. Mereka,  beberapa orang yang mengalihkan perhatianku gara-gara nilainya. Barakallah semuanya.. Setahun ini keren bersama teman-teman yang keren.

Esoknya, kami bertemu tere liye. Acara tahunan "liliedors" kali ini mempertemukan kami dengan penulis yang keren itu. Beliau keren karena dari kecil sudah banyak yang membuatnya keren. Kalau kamu? Mau berusaha jadi keren sejak kapan? Semangat...

Masih ada lagi cerita di bulan kemerdekaan ini. Maaf ya pemirsa,  postingan ini begitu aneh,  panjang, campur-campur. Kali ini mari kita pergi ke Bogor. Tepatnya aku sih yang ke Bogor. Temanku tiba-tiba bilang minta ditemani. Kita mengadakan pertemuan dengan alumni,  dan dia diberi amanah dari kepala madrasah untuk menyampaikan beberapa misi. Aku mau-mau aja nemenin,  mau silaturahmi juga ke Bogor, hehe. Dia dulu pernah berkunjung ke Jakarta,  dan sekarang giliranku.

Dari pertemuan di Bogor,  aku mendapatkan pelajaran baru. Pelajaran yang aku dapatkan adalah tentang kekeluargaan,  keberanian,  perjuangan serta penhorbanan. Senang ketika ternyata kita punya teman dalam menemani perjuangan. Senang,  ketika kita membantu perjuangan yang lainnya. Senang,  ketika adanya diri ini bermanfaat bagi orang lain. Semoga setiap dari kita selalu memancarkan kebermanfaatan. Aamiin.

Nikmati perjalanan hidupmu dengan terus berjalan. Singgah,  istirahat,  berjalan dengan arah yang agak berbeda boleh boleh saja,  asal hati tetap memegang erat tujuan. Selebihnya ada cerita tentang Bulan Terbelah di Langit Amerika,  nonton bareng Nyai Ahmad Dahlan dan kemeriahan HUT RI RW 03.

Dan akhir bulan kemerdekaan aku bawa pulang. Aku teruskan perjuangan di kota kelahiran.

Selamat Idul Adha 1438H,  teruslah berkorban dimanapun kalian berada.

Wallahua'lam bissowab.

Minggu, 06 Agustus 2017

Perlukah Menulis Cerita Baper

Perlu kah menulis cerita baper?

Setiap orang punya hati dan dari hati tersebut mudah dibolak balikkan. Iya,  hati yang terbalik ke zona baper itu kadang bikin diri ini nggak jelas. Padahal,  hati itu adalah hal yang sangat penting. Semua bermuara pada hati. Seperti yang dipesankan oleh Abah Anwar hari ini dalam pembukaan "ngaos bersama alumni", bahwa hati lah yang memimpin dirimu. Bagaimana hati memimpinmu? Apakah hatimu selalu berkata kalau Allah selalu mengawasimu? Kita perlu tahu bahwa hati itu makanannya iman,  maka perkuatlah imanmu. Bersihkanlah hatimu.
Kata Ustazah Halimah yang bersumber dari perkataan Habib Umar,  sebagaimana kau membersihkan wajahmu agar indah dipandang orang, maka bersihkanlah pula hatimu agar indah dipandang Allah.


Ketika hatimu sedang merasa baper,  apa boleh kamu menuliskan catatan kebaperanmu itu?
Andai kamu menulisnya atau membiarkannya semua itu akan berpengaruh pada hatimu sendiri. Jatuh bangun dirimu karena kata-kata yang kamu torehkan adalah karena dan bagaimana hatimu. Bisa jadi hatimu semakin baper,  bisa juga hatiku malah hilang kebaperannya karena sudah kamu tuangkan,  dan juga bisa jadi semua rasa itu tergantung suasana hatimu ketika membacanya. Yang jelas kembali lagi pada niat kamu menuliskannya. Kalau niatnya baik tentu tak akan masalah. Namun,  tetap ada aturan-aturan dalam menulis cerita kebaperan itu.
Hari ini dapat nasihat dari Ustazah gara-gara ada yang ketahuan di hpnya terdapat foto-foto yang bukan mahrom.
"Qur'an itu suci,  tak bisa masuk pada hati yang kotor. Ketika kamu menyukai seseorang,  biarkan dirimu dan Allah saja lah yang tahu".
Jadi simpan rasa itu. Ketika terpaksa menuliskannya,  tulislah untuk dirimu sendiri. Selain itu,  kalau kamu ingin berbagi kebaikan dengan cerita bapermu itu,  usahakan menghilangkan serta menyamarkan tokoh utama dalam cerita bapermu itu.

Selamat menjaga hati...

Wallahua'lam bissowab.

#PondokPesantrenAssa'idiyyah
#AbahAnwarIskandar
#UstazahHalimahAlaydrus
#rqstis
#KakTatiPurwati

Jumat, 30 Juni 2017

Sowan 1438H

Rasanya masih kangen, apa nulisnya kemarin kurang panjang ya? Hehe..
Kangen rumah. "yang namanya rumah itu tempat kamu kembali, ya kalau kangen balik lagi gak papa" kata seorang teman. Hmbb... Aku merasakan kangen rumah itu.
******
Hari raya Idul Fitri memberikan alasan dan dukungan buat kami sejenak kembali berkunjung ke rumah tersebut. Sejenak kami meminta maaf kepada ahlul bait,  meminta maaf tentang kami penghuni yang banyak kekurangan. Selain itu, kami sejenak bertegur sapa dengan sesama para mantan penghuni rumah serta bertegur sapa dengan tempat yang menjadi kenangan. Sebagian dari kami duduk bersengkrama di ayunan, duduk di samping dapur, mengunjungi mushola dan tak lupa selfie,  wkwkwk.

Sudah bukan anak-anak yang akan dituturi setiap hari. Kami sudah lepas,  hidup sudah berada di tangan masing-masing. Namun, diri ini masih perlu,  masih rindu dengan pesan para sesepuh.
Dulu, hampir setiap pekan,  bahkan setiap ada kejadian yang menyimpang pesan itu langsung datang. Namun sekarang berbeda. Pesan itu perlu dijemput,  perlu dicari.
Hari ini, kami alhamdulillah menemui pesan tersebut. Alhamdulillah hari ini kami sowan bareng dan mendapat oleh-oleh pesan tersebut.
Pesan Ibuk ndalem (ibu pengasuh):
1. Pesan untuk menjaga sholat. Sholat lah tepat waktu, sholatlah sesuai dengan apa yang diajarkan dahulu. Sholat seperti yang diajarkab orang tua akan memberikan kesinergisan,  ikatan,  antara anak dan orang tua.
2. Berdoa kepada kedua orang tua. Lakukanlah setiap hari,  meski beliau masih hidup tetap selalu kirim doa. Semoga orang tua kita bisa mendidik kita sampai kita selesai, kita selesai belajar,  bekerja dan juga selesai berumah tangga. Selain itu,  tentang doa,  doakanlah juga guru gurumu.
3. Menuntut ilmu. Teruslah menuntut ilmu dengan fokus benar benar mendalami ilmu tersebut. Jangan sampai kamu tergoda dengan sesuatu maupun seseorang. Jangan kamu tergoda dengan barang mewah,  dengan gengsi,  dan sejenisnya. Cantik itu dari hati. Ketika hatinya baik,  semua akan keluar dengan baik.
4. Semoga kalian mendapat jodoh yang baik dunia akhirat.

Aamiin..

Berlanjut ke pesan kedua,  dari Abah podok sebelah yang juga menjadi pengajar di pondok kami.
Beliau berpesan tentang akidah.
"Al muhafadhatu 'ala qadimis sholih wal ahdhu bi jadiidil ashlah" (Imam Syafi'i)
Menjaga tradisi lama dan menyerap tradisi baru yang baik.
Ahlu sunnah wa jama'ah,  jangan sampai jama'ahnya hilang.
Kemudian, ketika kamu bingung, bertanyalah. Kembalilah pada pondokmu, bertanyalah.

*********

Pesan tersebut begitu menyentuh,  yang cocok dengan kehidupan jaman sekarang. Beliau-beliau memang seorang yang "ngalim", selain itu beliau beliau memiliki pengalaman bertahun tahun dalam mengurusi rumah besar ini.
Ada asap karena ada api kan? Pesan beliau beliau ini muncul juga akibat dari seseorang yang sudah merasakan, seseorang yang terbelokkan sehingga mendapati atmosfer seperti itu. Untuk itu,  jangan sampai kita menjadi orang berikutnya yang ikut ikut ke arah itu. Astagfirullah.. Kami malu sebagai temannya,  kami merasa sangat bersalah tidak bisa menasehati teman yang seperti itu. Dia seolah ilah baik, tenang,  sukses,  tapi ternyata... Naudzubillah,  sekarang nggak bisa ya lihat orang cukup dari luarnya,  memang kita harus melihat hatinya. Sebagai teman hendaknya kita saling mengajak ke kebaikan,  saling menarik jika teman kita "tercantol" pada hal yang salah, mengingat sekarang banyak "cantolan-cantolan" kehidupan.

Wallahua'lam bisshowab..
Kediri, 30 Juni 2017
6 Ramadhan 1438H
#Alumni putri & putra



 
Copyright 2009 Sedikit Berbagi. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator