Kamis, 31 Agustus 2017

Perjuangan di Bulan Kemerdekaan

"Bersama kita mengabdi untuk ibu pertiwi, tak kenal lelah pantang menyerah mari tegap mengayun langkah, curahkan segala daya tuk Indonesia Jaya".
Kami masih disini, masih menunggumu. Kami masih disini menunggu selesainya pembekalan demi tercapainya tujuan besar itu. Disamping itu,  sedikit demi sedikit kami memulai merintis, memulainya dengan sedikit ber-"aksi nyata untuk bangsa". Yaps, bulan ini tepatnya di semester enam ini,  tugas kami selain menimba ilmu adalah menyelesaikan misi Praktek Kerja Lapangan angkatan 56.

PKL ini telah dimulai dirancang hampir satu tahun yang lalu. Perjalanan terjun ke lapangan juga sudah terlaksanakan. Bahkan cerita pencacahan itu sudah mulai hilang dari ingatan,  hehe. Sekarang kami bertugas mengolah, dan menganalisis hasilnya.

Kebetulan saya terlibat dalam perjalanan hampir episode akhir pkl ini.
"nantinya ada lima perwakilan setiap seksi analisis" percakapan di grup.
"vin,  kamu bisa kan?" pesan dari seseorang datang.
Aku yang memang tidak akan pulang saat itu langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang, pikirku yang jelas kegiatan itu tidak menyita sabtu mingguku. Namun sebenarnya aku belum terlalu paham kegiatan apa yang akan aku ikuti,  dan aku kaget setelah benar-benar tahu. Sudahlah,  hatiku mulai bergejolak nggak jelas,  tapi aku segera belajar menjalani takdir terbaikku,  eyyahh.

Berangkat pagi, duduk di bangku depan dengan beberapa orang saja,  melihat layar,  membaca,  istirahat solat,  makan siang dengan bubur,  hari beranjak sore dan pulang  adalah keseharian kami dalam mempersiapkan hari spesial itu. Ada aja kesalahan sederhana yang kita buat sendiri. Ada juga guyonan kecil yang menemani perjalanan kami waktu itu (cowok ganteng yang sedang ditikung temannya sendiri). Namanya manusia,  masih mencoba belajar untuk memperbaiki ketidaksempurnaan dengan berbagi ataupun membagi.

Hari-hari itu memang lumayan padat, tapi aku sempat kabur menuju seminar skripsi kakakku,hehe. Selain kesibukan anak-anak pkl, di kampus ini yang sebagian mahasiswanya menikmati liburan,  masih banyak perjuangan lain termasuk seminar skripsi. Di seminar ini mahasiswa semester 8 dituntut untuk menampilkan hasil terbaik penelitian mereka. Dari mahasiswa tingkat empat ini aku hanya melihat satu,  dan itu luar biasa keren. Keren karena hasil penelitiannya,  keren karena bisa membuka alam sadarku. Dari seminar ini,  dari tulisanmu,  kamu akan memberikan kebermanfaatan untuk sekolahmu serta bangsamu.

Pulang pergi kampus dengan bertemu beberapa orang yang sama,  dengan pekerjaan yang sama memerlukan kesabaran dan ketekunan yang lumayan. Kesabaran dan ketekunan itu yang akan memberikan hasil. Dan hal itu memang benar. Setelah sekian lamanya,  kami menghasilkan dua ratusan lembar yang siap diberikan kepada dosen pembina. Rasanya lega,  bebas,  dan juga khawatir karena semakin mendekati hari spesial itu. Kami hanya punya sekitar tiga hari untuk sejenak istirahat sambil mempersiapkan hari itu. Aku pun mempersiapkannya sampai jauh-jauh ke Ancol wkwkwkwk. Aku memperistirahatkan hatiku dengan "rihlah ke Dufan" bersama keluarga RQ.

Acara rihlah ke Dufan  ini dadakan seperti tahu bulat. Rasanya pun sama seperti tahu bulat, angeet,  hehe. Bermodalkan diskon tiket untuk cewek,  keinginan keluarga yang belum pernah rihlah serta waktu kuliah ustazah yang tiba-tiba longgar, kami anggota keluarga yang nganggur langsung tancap gas memenuhi ajakan ke Dufan. Setelah mendapat ajakan itu kami segera mandi,  mempsrsiapkan bekal dan menunggu kepulangan ustazah.

Kami sampai di dufan siang hari, dan kami pulang sore hari. Singkat,  tapi kami cukup banyak merasakan wahana yang ada. Bahagia itu sederhana, ketika kami bisa melihat keindahan alam,  ketika kita dapat tertawa, menangis bersama. Dan yang paling ngena adalah ketika berpikir bahwa semua yang ada disini  ciptaan manusia yang disusun begitu canggihnya. Lantas,  bagaimana jika Allah yang membuatnya? Kita diputar begitu dahsyatnya,  diombang-ambingkan,  dan adakah sabuk pengaman yang erat menjaga kita? Al Qur'an, jadilah teman kita kelak. Aamiin

Kembali ke hari spesial pkl, sebut saja konsultasi terbahagia, kami melaluinya selama empat hari. Kegiatan itu berlangsung dari pagi sampai malam di kampus. Setelah itu,  kami melanjutkan pr hari itu dan persiapan untuk hari esok di kos salah seorang dari kami. Padet? Lelah? Jangan anggap kegiatan yang lumayan padet ini sangat melelahkan, kegiatan ini juga mengenyangkan serta menyenangkan, hehe, yang jelas katanya kegiatan ini mendekatkan. Semoga benar-benar begitu. Semoga kegiatan ini mendekatkan dengan keberkahan ilmu,  dengan persahabatan. Aamiin

Singkat sekali jika keseharian kita dilakukan dengan sungguh-sungguh,  dengan memadatkan kegiatan. Waktu itu akan berlalu dengan cepat. Hari sudah berganti Sabtu, Minggu dan aku akan memeriahkan hari kemerdekaan bersama adik-adik Rumah Qur'an Cipinang.

Perayaan ini benar-benar memberikanku penyegaran setelah berlama-lama dengan acara kampus. Aku diajak untuk semakin dekat dengan perjuangan Indonesia, dengan kehidupan anak-anak dan tentunya dengan Islam. Dari lomba hafalan,  adzan sampai makan kerupuk ada di acara ini. Perjuangan yang luar biasa, perjuangan dunia akhirat,  eaakk. Semoga semangat kemerdekaannya membara dalam membersamai perjuangan untuk dunia dan akhirat.  Aamiin.

Besoknya aku harus ke kampus lagi untuk acara  pembagian hasil belajar,  sebutannya ambil ip. Hmbb,  hasilnya aku punya sudut pandang lain. Mereka,  beberapa orang yang mengalihkan perhatianku gara-gara nilainya. Barakallah semuanya.. Setahun ini keren bersama teman-teman yang keren.

Esoknya, kami bertemu tere liye. Acara tahunan "liliedors" kali ini mempertemukan kami dengan penulis yang keren itu. Beliau keren karena dari kecil sudah banyak yang membuatnya keren. Kalau kamu? Mau berusaha jadi keren sejak kapan? Semangat...

Masih ada lagi cerita di bulan kemerdekaan ini. Maaf ya pemirsa,  postingan ini begitu aneh,  panjang, campur-campur. Kali ini mari kita pergi ke Bogor. Tepatnya aku sih yang ke Bogor. Temanku tiba-tiba bilang minta ditemani. Kita mengadakan pertemuan dengan alumni,  dan dia diberi amanah dari kepala madrasah untuk menyampaikan beberapa misi. Aku mau-mau aja nemenin,  mau silaturahmi juga ke Bogor, hehe. Dia dulu pernah berkunjung ke Jakarta,  dan sekarang giliranku.

Dari pertemuan di Bogor,  aku mendapatkan pelajaran baru. Pelajaran yang aku dapatkan adalah tentang kekeluargaan,  keberanian,  perjuangan serta penhorbanan. Senang ketika ternyata kita punya teman dalam menemani perjuangan. Senang,  ketika kita membantu perjuangan yang lainnya. Senang,  ketika adanya diri ini bermanfaat bagi orang lain. Semoga setiap dari kita selalu memancarkan kebermanfaatan. Aamiin.

Nikmati perjalanan hidupmu dengan terus berjalan. Singgah,  istirahat,  berjalan dengan arah yang agak berbeda boleh boleh saja,  asal hati tetap memegang erat tujuan. Selebihnya ada cerita tentang Bulan Terbelah di Langit Amerika,  nonton bareng Nyai Ahmad Dahlan dan kemeriahan HUT RI RW 03.

Dan akhir bulan kemerdekaan aku bawa pulang. Aku teruskan perjuangan di kota kelahiran.

Selamat Idul Adha 1438H,  teruslah berkorban dimanapun kalian berada.

Wallahua'lam bissowab.

Minggu, 06 Agustus 2017

Perlukah Menulis Cerita Baper

Perlu kah menulis cerita baper?

Setiap orang punya hati dan dari hati tersebut mudah dibolak balikkan. Iya,  hati yang terbalik ke zona baper itu kadang bikin diri ini nggak jelas. Padahal,  hati itu adalah hal yang sangat penting. Semua bermuara pada hati. Seperti yang dipesankan oleh Abah Anwar hari ini dalam pembukaan "ngaos bersama alumni", bahwa hati lah yang memimpin dirimu. Bagaimana hati memimpinmu? Apakah hatimu selalu berkata kalau Allah selalu mengawasimu? Kita perlu tahu bahwa hati itu makanannya iman,  maka perkuatlah imanmu. Bersihkanlah hatimu.
Kata Ustazah Halimah yang bersumber dari perkataan Habib Umar,  sebagaimana kau membersihkan wajahmu agar indah dipandang orang, maka bersihkanlah pula hatimu agar indah dipandang Allah.


Ketika hatimu sedang merasa baper,  apa boleh kamu menuliskan catatan kebaperanmu itu?
Andai kamu menulisnya atau membiarkannya semua itu akan berpengaruh pada hatimu sendiri. Jatuh bangun dirimu karena kata-kata yang kamu torehkan adalah karena dan bagaimana hatimu. Bisa jadi hatimu semakin baper,  bisa juga hatiku malah hilang kebaperannya karena sudah kamu tuangkan,  dan juga bisa jadi semua rasa itu tergantung suasana hatimu ketika membacanya. Yang jelas kembali lagi pada niat kamu menuliskannya. Kalau niatnya baik tentu tak akan masalah. Namun,  tetap ada aturan-aturan dalam menulis cerita kebaperan itu.
Hari ini dapat nasihat dari Ustazah gara-gara ada yang ketahuan di hpnya terdapat foto-foto yang bukan mahrom.
"Qur'an itu suci,  tak bisa masuk pada hati yang kotor. Ketika kamu menyukai seseorang,  biarkan dirimu dan Allah saja lah yang tahu".
Jadi simpan rasa itu. Ketika terpaksa menuliskannya,  tulislah untuk dirimu sendiri. Selain itu,  kalau kamu ingin berbagi kebaikan dengan cerita bapermu itu,  usahakan menghilangkan serta menyamarkan tokoh utama dalam cerita bapermu itu.

Selamat menjaga hati...

Wallahua'lam bissowab.

#PondokPesantrenAssa'idiyyah
#AbahAnwarIskandar
#UstazahHalimahAlaydrus
#rqstis
#KakTatiPurwati

Jumat, 30 Juni 2017

Sowan 1438H

Rasanya masih kangen, apa nulisnya kemarin kurang panjang ya? Hehe..
Kangen rumah. "yang namanya rumah itu tempat kamu kembali, ya kalau kangen balik lagi gak papa" kata seorang teman. Hmbb... Aku merasakan kangen rumah itu.
******
Hari raya Idul Fitri memberikan alasan dan dukungan buat kami sejenak kembali berkunjung ke rumah tersebut. Sejenak kami meminta maaf kepada ahlul bait,  meminta maaf tentang kami penghuni yang banyak kekurangan. Selain itu, kami sejenak bertegur sapa dengan sesama para mantan penghuni rumah serta bertegur sapa dengan tempat yang menjadi kenangan. Sebagian dari kami duduk bersengkrama di ayunan, duduk di samping dapur, mengunjungi mushola dan tak lupa selfie,  wkwkwk.

Sudah bukan anak-anak yang akan dituturi setiap hari. Kami sudah lepas,  hidup sudah berada di tangan masing-masing. Namun, diri ini masih perlu,  masih rindu dengan pesan para sesepuh.
Dulu, hampir setiap pekan,  bahkan setiap ada kejadian yang menyimpang pesan itu langsung datang. Namun sekarang berbeda. Pesan itu perlu dijemput,  perlu dicari.
Hari ini, kami alhamdulillah menemui pesan tersebut. Alhamdulillah hari ini kami sowan bareng dan mendapat oleh-oleh pesan tersebut.
Pesan Ibuk ndalem (ibu pengasuh):
1. Pesan untuk menjaga sholat. Sholat lah tepat waktu, sholatlah sesuai dengan apa yang diajarkan dahulu. Sholat seperti yang diajarkab orang tua akan memberikan kesinergisan,  ikatan,  antara anak dan orang tua.
2. Berdoa kepada kedua orang tua. Lakukanlah setiap hari,  meski beliau masih hidup tetap selalu kirim doa. Semoga orang tua kita bisa mendidik kita sampai kita selesai, kita selesai belajar,  bekerja dan juga selesai berumah tangga. Selain itu,  tentang doa,  doakanlah juga guru gurumu.
3. Menuntut ilmu. Teruslah menuntut ilmu dengan fokus benar benar mendalami ilmu tersebut. Jangan sampai kamu tergoda dengan sesuatu maupun seseorang. Jangan kamu tergoda dengan barang mewah,  dengan gengsi,  dan sejenisnya. Cantik itu dari hati. Ketika hatinya baik,  semua akan keluar dengan baik.
4. Semoga kalian mendapat jodoh yang baik dunia akhirat.

Aamiin..

Berlanjut ke pesan kedua,  dari Abah podok sebelah yang juga menjadi pengajar di pondok kami.
Beliau berpesan tentang akidah.
"Al muhafadhatu 'ala qadimis sholih wal ahdhu bi jadiidil ashlah" (Imam Syafi'i)
Menjaga tradisi lama dan menyerap tradisi baru yang baik.
Ahlu sunnah wa jama'ah,  jangan sampai jama'ahnya hilang.
Kemudian, ketika kamu bingung, bertanyalah. Kembalilah pada pondokmu, bertanyalah.

*********

Pesan tersebut begitu menyentuh,  yang cocok dengan kehidupan jaman sekarang. Beliau-beliau memang seorang yang "ngalim", selain itu beliau beliau memiliki pengalaman bertahun tahun dalam mengurusi rumah besar ini.
Ada asap karena ada api kan? Pesan beliau beliau ini muncul juga akibat dari seseorang yang sudah merasakan, seseorang yang terbelokkan sehingga mendapati atmosfer seperti itu. Untuk itu,  jangan sampai kita menjadi orang berikutnya yang ikut ikut ke arah itu. Astagfirullah.. Kami malu sebagai temannya,  kami merasa sangat bersalah tidak bisa menasehati teman yang seperti itu. Dia seolah ilah baik, tenang,  sukses,  tapi ternyata... Naudzubillah,  sekarang nggak bisa ya lihat orang cukup dari luarnya,  memang kita harus melihat hatinya. Sebagai teman hendaknya kita saling mengajak ke kebaikan,  saling menarik jika teman kita "tercantol" pada hal yang salah, mengingat sekarang banyak "cantolan-cantolan" kehidupan.

Wallahua'lam bisshowab..
Kediri, 30 Juni 2017
6 Ramadhan 1438H
#Alumni putri & putra



Selasa, 27 Juni 2017

Assa'idiyyah Jamsaren Kediri

Ada yang upload foto begini, jadi baper. Trus langsung dijadiin status wa,  tumblr,  gitu lah wkwkwkwk...


Wait..  Jangan baper yang gituan, tapi yang gini. Ketika kamu dididik untuk menyebarkan kebaikan,  dan sekarang apa yang sedang kamu lakukan. Hmbb. Perkara jauh itu bukan masalah.. Tapi ya kamunya itu yang penting.

Bulan Mei,  menjelang Ramadhan.. Alhamdulillah aku dipaksa dipertemukan,  suruh agak dekat sama beberapa orang. Awalnya aku ragu,  tapi setelah dapat restu orang tua aku maju-maju aja. Dan ternyata kata abah, "biar kayak Bu Khofifah", wkwkwk.
Di sini aku sedikit lebih aktif, baik untuk yang lain ataupun untuk diriku sendiri. Mempertahankan tradisi lama dan mengambil tradisi baru yang baik,  kurang lebih seperti itu. Kalian.. Sebagai pengobat rinduku pada Kediri,  dan juga sebagai bukti terima kasihku. Semoga berkah menerangi perjalanan kita. Yang masih berumur beberapa tahun,  semoga kamu tumbuh untuk memberikan asan kita masuk Syurga. Aamiinn

Wallahua'lam bisshowab

#ziaroh

Bersama Al Qur'an

Ceritanya kami ngga boleh ngurusin apa-apa,  ngga boleh deket sama apa-apa,  hanya boleh deket sama Qur'an.
Awalnya aku mengerjakan semua hal yang harus diselesaikan sebelum hari itu. Semua urusan dunia berusaha aku bereskan. Aku pamit pada beberapa amanah yang sewaktu-waktu memanggil, termasuk kemingkinan tidak menghadiri pertandingan basket wkwkwkw. Aku juga berpamitan dengan orang tua di rumah. Aku berusaha sejenak melepaskan dengen baik-baik. Setelah itu, aku fokus mengikuti acara ini.
Detik-detik itu,  kami benar-benar berusaha hanyut hanya bersama Qur'an. Suasana sudah dirancang sedemikian rupa,  hp sudah dikumpulkan, tinggal hati hendak dibawa kemana. Pekerjaan kami tinggal naca Qur'an, sholat,  makan, mandi? (sebagian teman tak mengijinkan waktu bersama Qur'annya berkurang untuk mandi), tidur? (mereka hanya beberapa jam atau bahkan menit).
Dalam suasana seperti itu, pertanyaan yang ada adalah "apakah aku mampu?". Sedangkan aku bisa seharian mengkhatamkan novel, "apakah Qur'an aku bisa? Kalau tidak bisa, apa salahku?".
Ketika aku menyelesaikan novel,  aku tertarik pada ceritanya,  aku hanyut dalam ceritanya sehingga aku enggan jauh,  aku penasaran dengan hikmah yang tersimpan. Sedangkan Al Qur'an? Di dalamnya banyak cerita yang bukan hanya hikmah,  tapi tuntunan,  pedoman sepanjang masa. Sebuah mukjizat yang tak bisa disetarakan. Kurang apa coba? Kurang diakunya🙊😌. Mungkin aku kurang bisa memahami makna,  maklim belajar tafsir hanya berapa apa..? Tapi sungguh,  meski kamu hanya mengerti sedikit (entah tafsir,  makna atau sekadar arti kata),  jika kami fokus, rasa hanut dalam cerita itu akan dihadirkanNya.

Cobalah kawan. Berharaplah. Semoga taufik dan hidayah selalu menyertai kita.
Salam Cinta Al Qur'an.

Wallahua'lam bisshowab..

#rqstis
#menjelangramadhan1438H

Ustazah Halimah Alaydrus

Awalnya selalu ada halang merintang ketika mau bertemu beliau. Namun, waktu pun diberikan celah olehNya sehingga aku dipertemukan dengan beliau. Pertemuan pertama yang begitu berkesan sampai pada hari-hari selanjutnya. Pertemuan mata hanya sekali,  namun telinga,  hati,  rasanya masih tak bisa lepas untuk bertemu dengan beliau.

Kata yang masih menusuk di hati saat kajian menjelang Ramadhan,  "kalau Ramadhan ibarat kamu lagi bikin donat, donat kaya apa yang mau kamu hidangkan? Ramadhan seperti apa yang kamu persembahkan?".

Buku Bidadari Bidadari Syurga karangan beliau menambah rasa kagumku padanya. Goresan penanya,  baik di blognya yaitu  halimahalaydrus.blogspot.co.id maupun di buku rasanya ga ada bosen buat membacanya. Disana beliau banyak bercerita tentang hikmah perjalanan hidup beliau sewaktu sekolah di Yaman.
Alhamdulillah di Jakarta yang tinggal beberapa tahun lagi aku bisa mengenal beliau. Alhamdulillah aku telah mengenal keluarga baru yang awalnya aku ragu untuk mendekat. Mereka tidak bisa di lihat hanya dari sisi luar. Sisi dalam mereka lebih menakjubkan.

#terimakasihnahdiyatstis
Wallahua'lam bis showab..

Kisah Kisah Penenang Jiwa Penyejuk Hati

Sebelum menyelesaikan tumpukan buku di Bulan Mei, bulan Juni awal ini aku malah berganti buku. Buku ini menarik bagiku karena selain dia kecil,  imut,  dia diterbitkan di percetakan yang ada di kotaku. Percetakan itu milik pondok besar di Kediri.
Awalnya aku baca bersamaan dengan buku ketiga,  namun karena daya tariknya aku sampai melepas buku satunya.
Cerita yang paling berkesan tentang buku imut ini adalah tentang gaya bahasanya . Gaya bahasanya mirip-mirip dengan buku Ustazah Halimah. Pesan yang masuk seperti angin semilir di siang hari. Dia datang dengan perlahan dan menyejukkan.
Buku ini kecil tapi besar pengetahuannya. Kumpulan cerita para Nabi hingga ulama' yang patut untuk selalu dimurojaah dalam hati maupun diri.
Beberapa kisah yang paling aku ingat yakni kisah yang mengajarkan kita untuk tak mencari kesalahan orang lain, kisah yang mengajarkan untuk bersyukur,  ikhlas,  zuhud,  dan masih banyak lagi.
Semoga kita senantiasa dapat meneladani kisah-kisah yang telah ada, baik yang bersama kita atau pun jauh sebelum kita.
Wallahua'lam bissobaw..

Kisah-kisah penenang jiwa penyejuk hati.
KH Muchlis Musyafa'


 
Copyright 2009 Sedikit Berbagi. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator