Minggu, 06 Agustus 2017

Perlukah Menulis Cerita Baper

Perlu kah menulis cerita baper?

Setiap orang punya hati dan dari hati tersebut mudah dibolak balikkan. Iya,  hati yang terbalik ke zona baper itu kadang bikin diri ini nggak jelas. Padahal,  hati itu adalah hal yang sangat penting. Semua bermuara pada hati. Seperti yang dipesankan oleh Abah Anwar hari ini dalam pembukaan "ngaos bersama alumni", bahwa hati lah yang memimpin dirimu. Bagaimana hati memimpinmu? Apakah hatimu selalu berkata kalau Allah selalu mengawasimu? Kita perlu tahu bahwa hati itu makanannya iman,  maka perkuatlah imanmu. Bersihkanlah hatimu.
Kata Ustazah Halimah yang bersumber dari perkataan Habib Umar,  sebagaimana kau membersihkan wajahmu agar indah dipandang orang, maka bersihkanlah pula hatimu agar indah dipandang Allah.


Ketika hatimu sedang merasa baper,  apa boleh kamu menuliskan catatan kebaperanmu itu?
Andai kamu menulisnya atau membiarkannya semua itu akan berpengaruh pada hatimu sendiri. Jatuh bangun dirimu karena kata-kata yang kamu torehkan adalah karena dan bagaimana hatimu. Bisa jadi hatimu semakin baper,  bisa juga hatiku malah hilang kebaperannya karena sudah kamu tuangkan,  dan juga bisa jadi semua rasa itu tergantung suasana hatimu ketika membacanya. Yang jelas kembali lagi pada niat kamu menuliskannya. Kalau niatnya baik tentu tak akan masalah. Namun,  tetap ada aturan-aturan dalam menulis cerita kebaperan itu.
Hari ini dapat nasihat dari Ustazah gara-gara ada yang ketahuan di hpnya terdapat foto-foto yang bukan mahrom.
"Qur'an itu suci,  tak bisa masuk pada hati yang kotor. Ketika kamu menyukai seseorang,  biarkan dirimu dan Allah saja lah yang tahu".
Jadi simpan rasa itu. Ketika terpaksa menuliskannya,  tulislah untuk dirimu sendiri. Selain itu,  kalau kamu ingin berbagi kebaikan dengan cerita bapermu itu,  usahakan menghilangkan serta menyamarkan tokoh utama dalam cerita bapermu itu.

Selamat menjaga hati...

Wallahua'lam bissowab.

#PondokPesantrenAssa'idiyyah
#AbahAnwarIskandar
#UstazahHalimahAlaydrus
#rqstis
#KakTatiPurwati

Jumat, 30 Juni 2017

Sowan 1438H

Rasanya masih kangen, apa nulisnya kemarin kurang panjang ya? Hehe..
Kangen rumah. "yang namanya rumah itu tempat kamu kembali, ya kalau kangen balik lagi gak papa" kata seorang teman. Hmbb... Aku merasakan kangen rumah itu.
******
Hari raya Idul Fitri memberikan alasan dan dukungan buat kami sejenak kembali berkunjung ke rumah tersebut. Sejenak kami meminta maaf kepada ahlul bait,  meminta maaf tentang kami penghuni yang banyak kekurangan. Selain itu, kami sejenak bertegur sapa dengan sesama para mantan penghuni rumah serta bertegur sapa dengan tempat yang menjadi kenangan. Sebagian dari kami duduk bersengkrama di ayunan, duduk di samping dapur, mengunjungi mushola dan tak lupa selfie,  wkwkwk.

Sudah bukan anak-anak yang akan dituturi setiap hari. Kami sudah lepas,  hidup sudah berada di tangan masing-masing. Namun, diri ini masih perlu,  masih rindu dengan pesan para sesepuh.
Dulu, hampir setiap pekan,  bahkan setiap ada kejadian yang menyimpang pesan itu langsung datang. Namun sekarang berbeda. Pesan itu perlu dijemput,  perlu dicari.
Hari ini, kami alhamdulillah menemui pesan tersebut. Alhamdulillah hari ini kami sowan bareng dan mendapat oleh-oleh pesan tersebut.
Pesan Ibuk ndalem (ibu pengasuh):
1. Pesan untuk menjaga sholat. Sholat lah tepat waktu, sholatlah sesuai dengan apa yang diajarkan dahulu. Sholat seperti yang diajarkab orang tua akan memberikan kesinergisan,  ikatan,  antara anak dan orang tua.
2. Berdoa kepada kedua orang tua. Lakukanlah setiap hari,  meski beliau masih hidup tetap selalu kirim doa. Semoga orang tua kita bisa mendidik kita sampai kita selesai, kita selesai belajar,  bekerja dan juga selesai berumah tangga. Selain itu,  tentang doa,  doakanlah juga guru gurumu.
3. Menuntut ilmu. Teruslah menuntut ilmu dengan fokus benar benar mendalami ilmu tersebut. Jangan sampai kamu tergoda dengan sesuatu maupun seseorang. Jangan kamu tergoda dengan barang mewah,  dengan gengsi,  dan sejenisnya. Cantik itu dari hati. Ketika hatinya baik,  semua akan keluar dengan baik.
4. Semoga kalian mendapat jodoh yang baik dunia akhirat.

Aamiin..

Berlanjut ke pesan kedua,  dari Abah podok sebelah yang juga menjadi pengajar di pondok kami.
Beliau berpesan tentang akidah.
"Al muhafadhatu 'ala qadimis sholih wal ahdhu bi jadiidil ashlah" (Imam Syafi'i)
Menjaga tradisi lama dan menyerap tradisi baru yang baik.
Ahlu sunnah wa jama'ah,  jangan sampai jama'ahnya hilang.
Kemudian, ketika kamu bingung, bertanyalah. Kembalilah pada pondokmu, bertanyalah.

*********

Pesan tersebut begitu menyentuh,  yang cocok dengan kehidupan jaman sekarang. Beliau-beliau memang seorang yang "ngalim", selain itu beliau beliau memiliki pengalaman bertahun tahun dalam mengurusi rumah besar ini.
Ada asap karena ada api kan? Pesan beliau beliau ini muncul juga akibat dari seseorang yang sudah merasakan, seseorang yang terbelokkan sehingga mendapati atmosfer seperti itu. Untuk itu,  jangan sampai kita menjadi orang berikutnya yang ikut ikut ke arah itu. Astagfirullah.. Kami malu sebagai temannya,  kami merasa sangat bersalah tidak bisa menasehati teman yang seperti itu. Dia seolah ilah baik, tenang,  sukses,  tapi ternyata... Naudzubillah,  sekarang nggak bisa ya lihat orang cukup dari luarnya,  memang kita harus melihat hatinya. Sebagai teman hendaknya kita saling mengajak ke kebaikan,  saling menarik jika teman kita "tercantol" pada hal yang salah, mengingat sekarang banyak "cantolan-cantolan" kehidupan.

Wallahua'lam bisshowab..
Kediri, 30 Juni 2017
6 Ramadhan 1438H
#Alumni putri & putra



Selasa, 27 Juni 2017

Assa'idiyyah Jamsaren Kediri

Ada yang upload foto begini, jadi baper. Trus langsung dijadiin status wa,  tumblr,  gitu lah wkwkwkwk...


Wait..  Jangan baper yang gituan, tapi yang gini. Ketika kamu dididik untuk menyebarkan kebaikan,  dan sekarang apa yang sedang kamu lakukan. Hmbb. Perkara jauh itu bukan masalah.. Tapi ya kamunya itu yang penting.

Bulan Mei,  menjelang Ramadhan.. Alhamdulillah aku dipaksa dipertemukan,  suruh agak dekat sama beberapa orang. Awalnya aku ragu,  tapi setelah dapat restu orang tua aku maju-maju aja. Dan ternyata kata abah, "biar kayak Bu Khofifah", wkwkwk.
Di sini aku sedikit lebih aktif, baik untuk yang lain ataupun untuk diriku sendiri. Mempertahankan tradisi lama dan mengambil tradisi baru yang baik,  kurang lebih seperti itu. Kalian.. Sebagai pengobat rinduku pada Kediri,  dan juga sebagai bukti terima kasihku. Semoga berkah menerangi perjalanan kita. Yang masih berumur beberapa tahun,  semoga kamu tumbuh untuk memberikan asan kita masuk Syurga. Aamiinn

Wallahua'lam bisshowab

#ziaroh

Bersama Al Qur'an

Ceritanya kami ngga boleh ngurusin apa-apa,  ngga boleh deket sama apa-apa,  hanya boleh deket sama Qur'an.
Awalnya aku mengerjakan semua hal yang harus diselesaikan sebelum hari itu. Semua urusan dunia berusaha aku bereskan. Aku pamit pada beberapa amanah yang sewaktu-waktu memanggil, termasuk kemingkinan tidak menghadiri pertandingan basket wkwkwkw. Aku juga berpamitan dengan orang tua di rumah. Aku berusaha sejenak melepaskan dengen baik-baik. Setelah itu, aku fokus mengikuti acara ini.
Detik-detik itu,  kami benar-benar berusaha hanyut hanya bersama Qur'an. Suasana sudah dirancang sedemikian rupa,  hp sudah dikumpulkan, tinggal hati hendak dibawa kemana. Pekerjaan kami tinggal naca Qur'an, sholat,  makan, mandi? (sebagian teman tak mengijinkan waktu bersama Qur'annya berkurang untuk mandi), tidur? (mereka hanya beberapa jam atau bahkan menit).
Dalam suasana seperti itu, pertanyaan yang ada adalah "apakah aku mampu?". Sedangkan aku bisa seharian mengkhatamkan novel, "apakah Qur'an aku bisa? Kalau tidak bisa, apa salahku?".
Ketika aku menyelesaikan novel,  aku tertarik pada ceritanya,  aku hanyut dalam ceritanya sehingga aku enggan jauh,  aku penasaran dengan hikmah yang tersimpan. Sedangkan Al Qur'an? Di dalamnya banyak cerita yang bukan hanya hikmah,  tapi tuntunan,  pedoman sepanjang masa. Sebuah mukjizat yang tak bisa disetarakan. Kurang apa coba? Kurang diakunya🙊😌. Mungkin aku kurang bisa memahami makna,  maklim belajar tafsir hanya berapa apa..? Tapi sungguh,  meski kamu hanya mengerti sedikit (entah tafsir,  makna atau sekadar arti kata),  jika kami fokus, rasa hanut dalam cerita itu akan dihadirkanNya.

Cobalah kawan. Berharaplah. Semoga taufik dan hidayah selalu menyertai kita.
Salam Cinta Al Qur'an.

Wallahua'lam bisshowab..

#rqstis
#menjelangramadhan1438H

Ustazah Halimah Alaydrus

Awalnya selalu ada halang merintang ketika mau bertemu beliau. Namun, waktu pun diberikan celah olehNya sehingga aku dipertemukan dengan beliau. Pertemuan pertama yang begitu berkesan sampai pada hari-hari selanjutnya. Pertemuan mata hanya sekali,  namun telinga,  hati,  rasanya masih tak bisa lepas untuk bertemu dengan beliau.

Kata yang masih menusuk di hati saat kajian menjelang Ramadhan,  "kalau Ramadhan ibarat kamu lagi bikin donat, donat kaya apa yang mau kamu hidangkan? Ramadhan seperti apa yang kamu persembahkan?".

Buku Bidadari Bidadari Syurga karangan beliau menambah rasa kagumku padanya. Goresan penanya,  baik di blognya yaitu  halimahalaydrus.blogspot.co.id maupun di buku rasanya ga ada bosen buat membacanya. Disana beliau banyak bercerita tentang hikmah perjalanan hidup beliau sewaktu sekolah di Yaman.
Alhamdulillah di Jakarta yang tinggal beberapa tahun lagi aku bisa mengenal beliau. Alhamdulillah aku telah mengenal keluarga baru yang awalnya aku ragu untuk mendekat. Mereka tidak bisa di lihat hanya dari sisi luar. Sisi dalam mereka lebih menakjubkan.

#terimakasihnahdiyatstis
Wallahua'lam bis showab..

Kisah Kisah Penenang Jiwa Penyejuk Hati

Sebelum menyelesaikan tumpukan buku di Bulan Mei, bulan Juni awal ini aku malah berganti buku. Buku ini menarik bagiku karena selain dia kecil,  imut,  dia diterbitkan di percetakan yang ada di kotaku. Percetakan itu milik pondok besar di Kediri.
Awalnya aku baca bersamaan dengan buku ketiga,  namun karena daya tariknya aku sampai melepas buku satunya.
Cerita yang paling berkesan tentang buku imut ini adalah tentang gaya bahasanya . Gaya bahasanya mirip-mirip dengan buku Ustazah Halimah. Pesan yang masuk seperti angin semilir di siang hari. Dia datang dengan perlahan dan menyejukkan.
Buku ini kecil tapi besar pengetahuannya. Kumpulan cerita para Nabi hingga ulama' yang patut untuk selalu dimurojaah dalam hati maupun diri.
Beberapa kisah yang paling aku ingat yakni kisah yang mengajarkan kita untuk tak mencari kesalahan orang lain, kisah yang mengajarkan untuk bersyukur,  ikhlas,  zuhud,  dan masih banyak lagi.
Semoga kita senantiasa dapat meneladani kisah-kisah yang telah ada, baik yang bersama kita atau pun jauh sebelum kita.
Wallahua'lam bissobaw..

Kisah-kisah penenang jiwa penyejuk hati.
KH Muchlis Musyafa'


Minggu, 14 Mei 2017

Hidupkan Buku untuk Peradaban


#Sebarkan buku di setiap bagian  rumah
#Memimpin itu siap menderita
#Jangan pikirkan apa yang kamu  tuliskan, tuliskan yang kamu rasakan
Sekretariss yang lagi ngantuk atau memang lagi menulis di hati jadi catatanya cuma beberapa kata diatas? hehe
Alhamdulillah hari ini dapat kesempatan memenuhi undangan yang ditujukan untuk STIS Mengajar, meski sebenarnya aku bukan anggota dari organisasi tersebut. Lhoh kok bisa? Ceritanya nemenin adek sekretaris tercinta, hehe. Dia belum tau lokasinya, dan sebenarnya saya juga tidak tahu. Jadi niatnya nemenin, kalau nyasar biar ada temannya.
Sebuah peresmian Gerakan Mari Membaca Buku oleh Rumah Belajar Kita(RBK) yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Nasional ini berhasil menambah energiku untuk berbagi. Jadi inget semakin sedikit yang dibagi di blog “sedikit berbagi”.
Acara ini dibuka dengan bedah buku, buku yang aku kira bisa jadi buah tangan. Disana berisi tentang sejarah orang hebat yang berkaya dalam keadaan yang dapat dibilang kurang layak, bahkan penuh dengan penderitaan. Mereka (tokoh dalam buku) berjuang dengan gigih, dan impian mereka pun tercapai. Mereka adalah sang pemimpin yang siap menderita. Hal itu jauh berbeda dengan orang jaman sekarang. Apakah kenikmatan yang kita dapat sangat melalaikan kita? “Fabi ayyi ala irobbikuma tukadziban” Astagfirullah…
Belajar harusnya menjadi salah satu kebutuhan pokok kita, tapi apa? Kita sekarang sukanya membaca dan menulis dalam satu buku yang terkenal itu (f***b***). Kita seperti lalai dengan kecanggihan teknologi. Mana buku yang sudah kamu baca nak? Apa yang sudah kamu tuliskan untuk negeri ini?
Sedikit diceritakan latar belakang penulis pada sesi tersebut. Beliau dari keluarga yang lumayan kurang. Beliau benar-benar gigih untuk belajar, untuk membaca. Beliau tidak ingin jadi mahasiswa yang sekadarnya. Beliau pun prihatin dengan pemuda sekarang. Beliau prihatin dengan teman-temannya, teman yang dulunya lebih pintar darinya tetapi sekarang apa yang menjadi keseharian mereka tak sebanding. Bukannya keseharian itu tak sebanding, tetapi seperti mereka tak ada perjuangan untuk menggapai sesuatu yang lebih baik dari hal tersebut.
Aku berpikir, mana rasa syukurku ketika aku melihat pembicara yang satu ini. Mana bentuk syukurku? Ketika ada yang berjuang, dan kamu memiliki alat perjuangan yang lebih baik, sudahkan alat itu digunakan dengan sebaiknya?
Tentang membaca, bercerita yang disampaikan oleh beliau atau pun pembicara yang lain. Membaca itu perlu, bahkan harus. Ingan ayat pertama yang diwahyukan? “iqro’” Seorang Imam Syafi’i sudah membaca (dibacakan oleh ibunya) sejak dalam kandungan, dan tau hasilnya? Ada anak yang difonis mempunyai penyakit apa gitu,kemudian orang tuanya dengan sabar membacakan, menceritakan padanya beberapa kisah, dan hasilnya dia menjadi baik baik saja.
Baca yuk.. Baca..
Sebenarnya momen ini pas banget sama aku yang entah kenapa bisa ngumpulin banyak buku dalam bulan ini. Niatnya peregangan setelah uts, tapi kok menggebu banget. Awalnya adik yang bulan Maret kemarin baru ulang tahun minta dibeliin buku. Aku mau cariin buku yang pas di IBF. Eh udah dapet bukunya, mbaknya juga pengen beli buku. Tiba-tiba ketemu sama Kang Abik, ambil buku lagi. Tau ada pemesanan buku seseorang yang sering ngasih nasehat Qur’an pesen bukunya. Tau bukunya Ustazah yang disayang beli. Ketemu sama buku pinjaman yang belum selesai dibaca yang sudah tak di tangan, dibeli. Eh pas even satu hari bersama Qur’an dapat buku juga. Jadi berapa ya? Kok curhat banget. Semoga tulisannya cepat dihadirkan. Aamiin.
Balik lagi ke hidupkan buku untuk peradaban.
Taukah kamu sebaik-baik bacaan yang harus dibaca?
Ya, tentunya Al-Qur’an.
Kebetulan sekali, kemarin alhamdulillah dapat merasakan  even yang begitu nikmat. Acara “Ma’al Qur’an”, Satu hari bersama Al-Qur’an, khatam 30 juz.
Lihat tulisan selengkapnya tentang Ma’al Qur’an  disini.
Wallahu a’lam bissowab…

 
Copyright 2009 Sedikit Berbagi. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator