Sabtu, 07 Juli 2018

Kangenn.. Kangenn menyebar kata disini..
Kangennn..
Oh..

#alay

Senin, 21 Mei 2018

Ramadhan 1439H


Marhaban Yaa Ramadhan..


Semoga tahun ini bisa lebih memuliakanmu. Semoga tahun depan kita bertemu lagi, semoga bertemu di tempat penuh rahmat.. Aamiin..

#ramadhan1439h
#tekatekikehidupan

Sabtu, 12 Mei 2018

Ziaroh ke Jawa Barat

Assalamu’alaikum..

Hai.. Seneng banget rasanya, aku masih bisa bertemu kamu (tulisan) setiap pekan, ( meski postingnya entah kapan, hehe. Aku kali ini mau cerita tentang perjalananku kemarin tanggal 5-6 Mei 2018 lhoo, perjalanan menuju Jawa Barat.

Ini bukan pertama kalinya aku ke Jawa Barat. Sebelumnya, aku sudah pernah ke Lembang bersama anak kelas 3se6. Jadi inget kan, belum berbagi cerita tentang Makrab 3se6. Tunggu aja ceritanya disini..

Balik ke perjalanan kali ini ya, aku bersama rombongan majelis taklim “Nurul Islam” yang dibina oleh Ustaz Nurizzi(semoga tulisannya bener) ziaroh menuju Jawa Barat.. yeyyy. Rencananya, kita mau ziaroh ke tiga tempat, yaitu Goa Safarwadi & makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya, Makam Mbah Panjalu Ciamis dan Ponpes Darussurur(makan Buya Yahya & Mualim Musa Bin Muaim Thahir) Bandung. Namun, waktu tidak memperkenankan kita. Kita nggak jadi ke Ciamis.

Sebenarnya awalnya aku juga sempet ragu ikut apa nggak, Saat itu, temanku cewek satu-satunya dari STIS yang ikut ziaroh merasa ragu karena beberapa hal (semester akhir, semoga dimudahkan ya). Aku sebenarnya sudah mengihklaskan. Kalau dia nggak ikut aku mau pendamping lain, tapi kalau nggak ada biar aku nggak berangkat juga nggak papa. Namun pada akhirnya kami berangkat sesuai rencana awal. yeyy.. Kan agak gimana gitu kalau sendiri bersama ibu-ibu yang belum kenal. Ada sih mahasiswa putra, tapi nggak enak juga kalau cewek sendirian.

Lho kok kami ziaroh bersama ibu-ibu dan bapak-bapak pengajian? Jadi santri-santri kmnu stis yang putra itu salah satu tempat ngajinya di Ustaz Nurizzi. Kemudian, majelis taklimnya Ustaz Nurizzi mengadakan ziaroh dan santri-santri tersebut diajak. Habis itu, mereka ngajak semua anggota kmnu juga. Jadi dari situlah kami punya rombongan.

Jadi dari situ aku mau menyampaikan terima kasih dulu ya.. Terima kasih pada Ustaz yang selama ini mendampingi anak-anak. Terima kasih kepada mas-mas pendahulu yang mengenalkan dengan Ustaz. Terima kasih pada sesepuh keluarga ini yang telah membentuk sebuah wadah. Dan terima kasih juga pada semua pengurus serta anggota keluarga ini yang merawat serta mengisi wadah tersebut. Semoga semakin berkah..

Lanjut ke cerita, kami pertama kali menuju ke Bandung, ke Ponpes Darussurur. Seneng banget tiba disana disambut dengan keramahan warga, serta makan siang, haha. Memang indah sebuah persaudaraan. Ustaz kenal baik dengan keluarga disana. Setelah makan siang dan solat, Ustaz silaturahmi ke rumah salah satu keturunan sesepuh disana. Setelah itu, baru Ustaz mengajak kita ziaroh ke makam.

Awalnya aku tak tahu siapa Syech yang akan kita ziarohi. Tapi, namanya santri, sami’na wa atho’na aja. Manut ulama aja. Dan sampai sana pun pertanyaan yang tersimpan dalam hati tadi terjawab. Ustaz menjelaskan yang intinya, beliau-beliau yang kita ziarahi ini pernah berdakwah di Jakarta. Salah satu dari beliau adalah yang namanya digunakan sebagai nama jalan di sini (Jl H Yahya, Bonasut). Ya Allah, terima kasih telah Engkau kirimkan beliau-beliau ini, sehingga sekarang hidupku di Jakarta berbalutkan dengan nuansa Islam.
Yang atas foto menuju makam., yang bawah foto yang menuju pondok dan rumah. Itu ada sebagian ibu rombongan, sama mahasiswi cantik,  haha.. Itu juga ada foto mobil kita.. 

Habis itu, kami cuss ke Tasikmalaya. Sebelum itu, kami solat magrib, isya di Masjid Al Fattah.Eh ternyata kemaleman. Panitia takut kalau kita di Tasik udah nggak kebagian penginapan. Untungnya, Ustaz kenal baik dengan pihak masjid dan pesantren ini. Jadinya, kita disediain tempat penginapan di pondok ini. Dan pondok ini keren banget lho..

Pondok ini plus masjidnya, gedhe, bagus, adem.. Santri-santrinya ramah. Seneng banget aku disapa dengan panggilan “teh”, hehe. Ibu-ibu masyarakat sekitar juga ramah. Pagi harinya setelah dzikir sholat shubuh, kami ditanyain ibu-ibu sana. Aku pikir itu ibu-ibu rombongan, eh ternyata bukan.

Yang paling aku suka dari pondok disana adalah saat pagi harinya. Sebelum subuh, masjid sudah membangunkan para santri dan masyarakat sekitar untuk melakukan tahajud jamaah. Setelah itu, sebelum solat Subuh saat dzikir, barisan sudah ditata, dirapatkan. Habis shubuh pun, barisan masih tertata rapi. Jamaah mengikuti dzikir dengan penuh semangat. Setelah selesai, santri langsung melingkar berkelompok. Entah itu apa yang mereka lakukan, tapi yang jelas mereka membawa Qur’annya masing masing. Saat itu (setelah dzikir), aku dan temanku bergegas ke bus, takut ditinggal. Eh ternyata rombongan masih ziaroh ke makam pendiri pondok ini, serta masih ada yang beli sarapan. Jadi aman.
Masjid saat malam hari

Itu foto di pagi hari. Dalam foto itu kelihatan bus dan *elep* yang kota kendarai. Di foto itu juga kelihatan ada jaket ijo yang menggerumbul dengan seorang berjubah. Itu anak kmnu, hehe..  Ini hasil mereka berdiri disitu

Berlanjut ke Tasikmalaya. Sampai sana kami menuju makam dan dilanjutkan dengan napak tilas goa. Ini pengalaman pertamaku napak tilas goa. Goanya gelap, ya iya lah,, hehe.. Yang paling berkesan itu ketika salah satu dari kami adzan dan kemudian Ustaz memberikan taujihnya. Ngena banget, alaayy..

Tempat itu bukan sekadar goa. Dahulu, tempat itu menjadi tempat sujud para wali Allah. Tempat itu menjadi tempat bertukar pikiran, menuntut ilmu. Jadi, jangan sepelekan sebuah goa. Selain itu, dari situ kita harus bersyukur dan menghargai jasa para wali Allah. Kita sudah sampai mana berjuangnya? Sampai mana berjuang demi agama ini? Nggak usah jauh-jauh untuk berdakwah, untuk mendakwahi dirimu sendiri apa kabar?
Ini waktu mau masuk goa. 
Ini di dalem goa. Si adek lagi gandeng Kakek,  lupa aku namanya. Itu cahaya dari lampu petromak. Aku motonya juga pakai flash.

Foto di luar goanya gak ada, aku udah capek bangets, haha

Ini adanya foto habis ziaroh. Foto warga, ustaz sama anak-anak. Entah akunya dimana saat itu

Wallahu a’lam bissowab
9 Mei 2018

Awal Rindu adalah Cinta

Awal rindu adalah karena tumbuhnya rasa cinta
Tapi ketika cinta itu semakin murni, rindu tak sehebat dulu. dia yang biasanya disebabkan oleh jarak, menjadikan jarak tak terlalu signifikan berpengaruh terhadapnya..
Ditambah dengan keikhlasan, akan hilang rasa baper tentang  kerinduan dalam cinta..
Ciyee.. Kok jadi baper gitu ya. Udah baper ditambah kata-kata yang berbau statistik gitu, wkwkwk. Jadi aku sebenarnya mau berbagi sebuah laporan penelitian tentang perasaan nih.
Awalnya aku nggak kenal sama dia, trus jadi kenal. Habis kenal tiba-tiba cocok dan jadi kenal baik. Habis kenal baik, persahabatan itu berhasil melewati badai kehidupan dan semakin menumbuh suburkan cinta tersebut. Hasilnya, nggak mau pisah. Akan tetapi, oleh karena tugas negara kami terpisahkan dan saat itu aku mewek, hahaha.
Perpisahan saat itu bikin aku mellow karena aku mikir kayaknya ini pertemuan terakhir. Aku dan dia tinggalnya tidak satu kota, bahkan beda provinsi. Trus kalau tugas negara sebenarnya masih ada harapan buat satu daerah penempatan, tapi penematanku masih (minimalnya)  dua tahun setelah kejadian tersebut, saat itu aku masih semester 5. Jadi mungkin hanya momen pernikahan (dia atau aku atau dua duanya) yang bisa menyebabkan kami bertemu lagi, tapi kalau itu waktunya pas juga.
Karena udah nganggep pertemuan terakhir, jadinya aku berusaha ikhlas kalau nggak ketemu lagi. Biarin lah jarak memisahkan, yang penting hati nggak, yang penting komunikasi tetep jalan. Jadi karena nggak saling melupakan, jarak itu kayak nggak ada, apalagi teknologi semakin canggih.
Eh ternyata kemarin dia bisa singgah. Dan dari ikhlas itu, jadi memunculkan rasa yang berbeda. Nggak tau ya, seneng iya, tapi nggak baper. Saat pisah (kan ketemunya nggak lama), jadi nggak semewek pas pisah dulu. Kek gitu rasanya.
Eh kok ikhlas diomong-omongin, wkwkwk.. Abaikan saja..
Intinya kalau sudah menyerahkan kepada penciptanya, kepada Sang Maha Menguasai, diri ini jadi nggak ngrasa aneh-aneh. Dikasih nggak dikasih apa yang diingini, rasanya tetep ayem. Kalau dikasih akan lebih terasa nikmatnya.
Modus ngajak foto karena nama kampusnya baru (jadi politeknik), tapi sebenarnya pengen foto buat kenangan, sebelum aku ada saingannya dalam mendampongimu, haha

Wallahu a’lam
29 April 2018
Mba Ira Boyolali


Merindu Baginda Nabi

“Yaa habib Yaa habib Yaa Habibi.. Kaifa Asyqoo waahoom wafuaa wafuaadly qodbada baadi baadidh-dholaam.. (Wahai yang tercinta, wahai kecintaanku, wahai kecintaanku, betapa celaka dan teraniayanya aku. karena telah kelihatan kebinasaan dan gelapnya hati)..”
Lirik itu mengiringiku membaca halaman-halaman terakhir dari buku “Merindu Baginda Nabi” karya Kang Abik. Pas banget momennya, ditambah pekan ini nggak ikut sholawat bareng, haha. Aku jadi meleleh.
Buku ini sudah kutunggu kelahirannya sejak akhir Februari kemarin.

Alhamdulillah April ini aku bisa membacanya. Dan ternyata novel ini baru selesai bulan Maret lhoo. Sungguh, begitu indahnya waktu apabila dimanfaatkan dengan baik. Dan sungguh indah jika telah datang waktunya nikmat-nikmat tersebut..
Kok aku begitu antusiasnya dengan buku ini ya? Ini semua karena dua hal. Pertama karena judulnya dan yang kedua karena penulisnya. Sejak tau dua hal tersebut langsung hadir niat yang kuat buat baca karya itu.

Judulnya singkat dan membuatku bertanya-tanya. Ternyata isinya tentang seorang Abah yang merindu Baginda. Seorang Abah yang merindu dengan membuktikan rasa kerinduaannya.
Sosok tersebut membuktikan kerinduannya dengan beberapa hal. Salah satunya adalah cara mendidik anak angkatnya, cara bertingkah laku, dan masih banyak lagi. Beliau berpesan pada anaknya bahwa dimanapun anaknya berada harus membanggakan Baginda SAW. Wah kita ni gimana ya? Kalau sosok Abah tersebut benar-benar merasa rindu, merasa rindu seperti rindunya Nabi, kalau kita gimana ya?

Kebetulan beberapa hari yang lalu aku bertemu langsung, di dunia ini, bukan di cerita-cerita ya.. aku bertemu di kehidupan nyata dengan seseorang yang memiliki rasa yang sama dengan sosok Abah di novel tersebut. Saat itu, jarakku hanya satu setengah meter dari beliau, ketika beliau mengutarakan kerinduannya..

Saat beliau mengutarakan perasaannya, hatiku langsung tersentil. Aku berasa malu nggak karuan, sedih, ikutan rindu, kagum, dan entahlah semua bercampur jadi satu.
Beliau saat itu membahas tentang kelompok  yang dijanjikan masuk surga dengan bebas memilih pintunya. Beliau ingin memperjuangkan untuk berada pada kelompok tersebut, yaitu kelompok istri solehah. Kata beliau, sekarang beliau berbakti pada suaminya bukan agar suaminya cinta padanya, atau agar suaminya nggak berpaling, atau apalah. Kata beliau, kalau masalah hati suaminya tinggal Allah yang ngurus. Beliau hanya  ingin mendapatkan hadiah tersebut, hadiah Surga dari pintu manapun. Oleh karena dengan bisa memilih pintu, ustazah bisa mencari Surga yang disana ada Nabi SAW. Itu poin pentingya.

Ya Allah, kerinduan seperti apa yang ada di hati beliau. Sampai-sampai, kebahagian dunia terasa kecil dibandingkan dengan rasa rindu tersebut. Sampai-sampai  setiap cerita beliau tentang Nabi dengan mudahnya membuatku tersentuh. Nggak cuma sekali dua kali, setiap beliau berkisah tentang Nabi, entah hatiku jadi ikut merasa rindu. Dan kata beliau juga, “bukannya rasa memang hanya bisa ditularkan oleh orang yang mempunyai rasa?” Susah kan ya kalau kamu lagi sedih terus disuruh nularin rasa seneng sama temenmu.

Kembali ke dunia novel, kembali ke karya Kang Abik. Disitu disuguhkan beberapa pesan dari Rasulullah. Salah satunya adalah pesan untuk bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menjadi bermanfaat, ada dua modal. Pertama adalah menjadi baik dan benar. Kedua adalah memiliki sesuatu yang bermanfaat. Bener kan ya, kira-kira sekarang kamu udah punya dua modal itu belum?

Selain beberapa  pesan keren dari Nabi, ada pesan tentang ilmu dan iman. Aku menangkap pesan tentang belajar di belahan dunia yang lain.

Beralih ke penulisnya ya, aku suka banget sama beliau karena gaya bahasanya. Beliau tau banyak tentang dunia pesantren. Beliau sering menyebut beberapa nama pesantren, nama ulama bahkan sampai judul kitab/buku. Dengan semua itu aku jadi nyaman pakai banget. Hatiku nyaman karena aku saat itu bisa mengingat kenangan terindah, ciyee.. Ya, bagiku dunia pesantren adalah dunia yang paling dekat dengan Kanjeng Nabi. Aku bersyukur banget bisa merasakan hidup di dunia seperti itu.

Kok aku alay sih. Iya emang bener. Aku certain secara singkat ya.. Dulu, saat aku harus berpindah dari kenyaman itu, aku merasa ada suatu hal yang hilang. Entahlah, beberapa tahun tersebut aku sedang apa dan dimana. Yang jelas, hati nggak bisa dibohongin. Aku kangen suasana tersebut, sampai sampai  aku menyuruh temanku mengirim rekaman suaranya. Dia mengirim rekaman pujian-pujian, solawat, sewaktu dulu di pondok. Intinya saat itu kayak lagi galau segalau galaunya..

Dan akhirnya cahaya itu datang. Ada cahaya yang menerangi hatiku, mengembalikan hatiku dalam kenyamanan.  Akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan baik yang sama denganku, yang sama-sama merindu.. Dan kami bersama melestarikan kebiasaan baik tersebut.
Semoga sekelompok ini tetap istiqomah dengan kerinduaannya ya..
 Semoga ustazah selalu sehat dan kita bisa ngikut mencari Surga yang ada Nabi Muhammadnya.. Aamiin..
Shollu ‘ala Muhammad
Salam Sya’ban, Bulan Sya’ban, Bulan Sholawat (
Abbabuz Zahro’ 19 April 2018, IBF 21 April 2018

Ini foto bukunya.. 

Seneng banget ini. Jadi tweetku direpost, habis itu bales balesan (alaayy betss) 


Balita bersholawat

Masih di Bulan Sya’ban, bulan Sholawat..
Beberapa hari setelah membaca novel, aku datang ke suatu acara yang menurutku istimewa banget. Aku merasa istimewa karena saat itu, di sebuah ruangan yang biasanya buat seminar sedang diperdengarkan sholawat. Dan, yang solawat itu bukan dari kalangan remaja, tapi dari balita. Saat itu yang banyak hadir juga kelompok balita. Keren nggak sih, dari kecil mereka sudah mencintai sholawat.
Rasanya saat itu aku pengen nangis, tapi aku inget aku lagi nggak bawa tisu. Batinku berkata, “Ya Allah, Ya Nabi, terus damping kehidupan anak-anak kecil ini, orang tuanya dan keluarganya, serta keluargaku, anak-anak dan keturunanku kelak(ciyee)”. Aamiin…

Aku kira ini acara jumpa fens gitu ya, tapi ternyata lebih dari sekadar itu. Ya iyalah yang difens aja beda lho.. Si Balita itu disukai banyak orang bukan hanya karena wajah imutnya, tetapi juga karena kelihaiannya dalam bersholawat, keistiqomahannya dalam menutup aurat. Keren dah pokok.

Eh iya, acara ini itu acara bedah buku. Tapi, aku belum baca bukunya, hehe. Menurutku, bukunya lebih ke parenting gitu sih, jadi ntar dulu lah ya.. Aku ngambil beberapa inti aja dari kata-kata sang ayah. Jadi dalam acara tersebut  sang Ayah yang memang seorang ustadz juga memberikan beberapa kata-kata yang bagiku itu adem, berasa kayak kajian deh..

Ngomongin pesertanya, peserta acara itu terdiri dari anak-anak kecil, orang tuanya, orang tua yang belum punya anak dan pengen banget anaknya seperti dia, ada juga mas-mas yang lagi penelitian tentang balita sadar kamera dan ada peserta yang udah bukan anak-anak belum jadi ibu pula(belum menikah) kayak yang nulis ini. Mereka saat itu berkesempatan memberikan kesan pesan tentang Aishwa (si Artis cilik). Pesan kesannya tuh bikin suasana tambah mellow..

Dari semua pesan kesan aku ambil kesimpulan bahwa keluarga mereka keren. Sholawat itu keren. Memang seperti itu seharusnya. Karena bukankah Nabi Muhammad SAW adalah Nabi paling keren.. Jadi apapun yang berkaitan, bertalian dengan beliau, insyaAllah juga keren bingits..Dengan hadirnya Aishwa, anak-anak jaman now yang suka mainan hp setidaknya bisa lah mengenal sholawat, bahkan ikutan suka  bersholawat. Ibu-ibu yang kenal sama sholawat jadi kenal juga..
Semoga nggak hanya bersholawat di dunia, nggak hanya berkenalan di dunia. Semoga saatnya nanti, beliau Nabi Muhammada SAW mengakui kita sebagai umatnya.. Aamiin.. Ya Allah.. Ya Nabi salam ‘alaika.. Ya Rasul salam ‘alaika, sholawatullah ‘alaika..
Wallahua’lam..
Ketemu Aishwa di Gramedia Matraman, 22 April 2018

Ini dia lagi pura pura baca, haha.. 
Ini habis acara, abinya diwawancarai. Karna udah sepi aku jadi punya space buat moto dia dari deket. Akhirnya aku juga bisa mencubit pipinya. 



Mengagungkan yang seharusnya diagungkan

Beberapa pekan yang lalu aku disuguhi dengan bacaan yang lumayan berat. Aku disuguhi buku yang berisi teori-teori serius dengan bahasa asing yang begitulah. Ternyata kosa kataku terhadap bahasa asing masih minim ya. Entah lah, mungkin aku sekarang lebih mencitai bahasa Arab dari pada bahasa Inggris, jadinya kalau udah nggak terlalu sayang, ngga terlalu kenal.
Cinta yang berat sebelah ini nggak cuma dalam hal membaca lho, kemarin saat mendengarkan juga hatiku berkata seperti itu. Kemarin kapan ya, intinya saat mendengarkan ceramah dari ustazah-ustazah yang berasal dari benua yang berbeda yang tentunya nggak pakai bahasa Indonesia, saat itu aku jadi mikir berat(alay). Aku mencoba menyimak dan berpikir keras (alayyy).

 
Copyright 2009 Sedikit Berbagi. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator